Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada Senin, 11 Mei 2026, mengungkapkan bahwa intervensi terapi magnet atau neuromodulasi selama lima hari mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dan bahasa anak dengan gangguan spektrum autisme. Metode ini memberikan harapan baru bagi pasien yang juga memiliki disabilitas intelektual.
Teknik yang dikenal sebagai stimulasi otak non-invasif ini bekerja dengan menggunakan denyut magnet khusus untuk merangsang bagian otak tertentu. Dilansir dari Medcom, prosedur medis ini tidak memerlukan tindakan operasi, pembiusan, maupun penggunaan obat-obatan dalam prosesnya.
Uji klinis yang melibatkan 194 anak dengan usia rata-rata 6,5 tahun ini menggunakan metode khusus bernama theta-burst stimulation. Para peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok untuk membandingkan efektivitas stimulasi asli dengan stimulasi palsu guna memastikan akurasi data.
Hasil kuesioner dari para orang tua menunjukkan adanya kemajuan signifikan dalam kemampuan sosial dan bahasa sesaat setelah terapi selesai. Peningkatan kemampuan tersebut dilaporkan tetap bertahan hingga satu bulan setelah rangkaian prosedur dilakukan.
Sekitar 30 hingga 35 persen anak autis di Amerika Serikat tercatat memiliki disabilitas intelektual, namun kelompok ini sering kali kesulitan mendapatkan penanganan medis. Terapi konvensional yang ada saat ini masih sangat terbatas dan sangat bergantung pada ketersediaan tenaga ahli yang jumlahnya sedikit.
Alat neuromodulasi ini bekerja dengan ditempelkan di dekat kulit kepala untuk menghasilkan medan magnet yang menembus tulang tengkorak tanpa rasa sakit. Setiap sesi terapi hanya berlangsung selama beberapa menit, sehingga memudahkan anak-anak untuk tetap tenang selama prosedur berlangsung.
Meskipun menunjukkan hasil positif, para peneliti menegaskan bahwa terapi magnet ini bukan merupakan pengganti dukungan perilaku bagi anak autis. Selain itu, biaya pengadaan peralatan medis ini masih tergolong mahal untuk penggunaan secara luas.
Manfaat jangka panjang dari penggunaan metode ini setelah melewati periode satu bulan masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Peneliti juga masih mengkaji jumlah sesi yang ideal untuk menjaga konsistensi hasil jika diterapkan pada fasilitas klinik kesehatan umum.