Maverick Vinales menyatakan penyesalannya atas keputusan berpisah dengan Yamaha pada musim MotoGP 2021. Pembalap asal Spanyol itu berpendapat bahwa kariernya mungkin akan lebih baik jika tetap bersama tim pabrikan asal Jepang tersebut.
Vinales bergabung dengan Yamaha dari Suzuki pada tahun 2017, dan langsung menunjukkan performa menjanjikan dengan memenangkan tiga seri pertama.
Namun, performanya kemudian menjadi tidak konsisten, dan hubungannya dengan Yamaha secara bertahap memburuk hingga mencapai puncaknya pada musim 2021. Ketegangan ini menyebabkan keputusan untuk berpisah lebih awal dari kontrak yang seharusnya berakhir setahun kemudian.
Situasi semakin pelik ketika Vinales dikeluarkan dari tim setelah insiden di balapan MotoGP Styria, di mana ia dinilai sengaja mencoba merusak mesin motornya.
Dalam sebuah podcast bersama Jorge Lorenzo, yang kini menjadi pelatih pribadinya, Vinales mengakui bahwa dirinya menyesali keputusannya meninggalkan Yamaha dan memilih bergabung dengan Aprilia.
"Saya merasa akan mendapat lebih banyak jika tetap di Yamaha. Tapi saat itu saya ingin perubahan dan ingin mengubah motor terburuk di grid (Aprilia),” ujarnya.
Vinales membela Aprilia hingga akhir musim 2024, sebelum melanjutkan kariernya bersama Tech3 KTM.
Vinales juga menyoroti musim 2017 sebagai peluang terbaiknya untuk bersaing merebut gelar juara dunia MotoGP. Ia merasa Yamaha justru mengambil arah pengembangan motor yang tidak sesuai dengan masukannya. "Saya merasa itu kesempatan saya,” tegas pembalap berusia 30 tahun itu.
Menurut Viñales, motor yang ia uji pada tes pramusim saat itu sudah sangat kompetitif. Namun, perubahan teknis, termasuk faktor ban dan grip lintasan, membuat segalanya menjadi lebih rumit.