Tiga Orang Tewas Akibat Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius

Tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius meninggal dunia akibat infeksi hantavirus saat berlayar dari Argentina menuju Cape Verde pada April 2026.

Tiga orang penumpang dilaporkan meninggal dunia akibat wabah hantavirus di atas kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde pada Sabtu, 11 April 2026. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi kejadian ini namun menyatakan bahwa pembatasan perjalanan internasional belum diperlukan saat ini.

Dilansir dari Detik iNET, korban tewas meliputi sepasang suami istri asal Belanda dan seorang warga negara Jerman. Selain korban jiwa, seorang pria asal Inggris berusia 69 tahun kini berada dalam kondisi kritis namun stabil di sebuah rumah sakit di Johannesburg, Afrika Selatan, setelah dievakuasi dari kapal.

Investigasi awal menunjukkan bahwa hantavirus teridentifikasi pada tubuh pasien yang dievakuasi tersebut. Pihak berwenang kini tengah menyelidiki keterkaitan virus ini dengan tiga kematian lainnya, di mana korban pertama mulai jatuh sakit dan meninggal di atas kapal pada pertengahan April.

Dr. Michael Head, peneliti kesehatan global dari Southampton University, menjelaskan bahwa hantavirus biasanya menyebar melalui kotoran hewan pengerat. Ia menduga varian virus Andes dari Amerika Selatan menjadi penyebabnya karena kapal tersebut berangkat dari wilayah tersebut.

"Mengingat kapal tersebut berasal dari Amerika Selatan, masuk akal jika varian virus Andes menjadi penyebab wabah ini. Sebelumnya pernah ada laporan mengenai penularan dari manusia ke manusia dari varian Andes, meskipun belum dapat dipastikan apakah itu yang terjadi dalam kasus ini," kata Dr. Michael Head.

Pakar epidemiologi dari Cambridge University, Dr. Charlotte Hammer, menyebutkan adanya kemungkinan hewan pengerat masuk ke dalam kapal. Namun, ia juga tidak menutup kemungkinan penumpang sudah terinfeksi saat kapal bersandar di pelabuhan Argentina karena masa inkubasi virus yang mencapai delapan minggu.

Hantavirus dapat menyebabkan penyakit serius seperti Sindrom Paru Hantavirus (HPS) dengan tingkat kematian mencapai 38 persen. Gejala awalnya sering menyerupai flu biasa, namun dapat berkembang menjadi sesak napas akut dan gangguan fungsi ginjal yang berat.

Direktur Regional WHO Eropa, Dr. Hans Henri Kluge, menekankan bahwa risiko terhadap masyarakat luas masih tergolong rendah. Menurutnya, infeksi ini tidak umum dan biasanya memerlukan kontak yang sangat dekat dengan hewan pengerat atau limbahnya untuk bisa menular ke manusia.

Hingga saat ini belum ditemukan pengobatan khusus untuk hantavirus, sehingga tenaga medis hanya melakukan perawatan suportif. Para dokter di Afrika Selatan terus memantau kondisi pasien Inggris melalui terapi oksigen dan penanganan gejala intensif di ruang isolasi.

Recommended