Saat Ramadan, makanan instan sering menjadi solusi praktis saat sahur. Namun, amankah mengonsumsi makanan instan secara rutin? Erwin Setiawan, seorang Quality Assurance Specialist perusahaan Food and Beverage, memberikan tips agar tetap sehat meski memilih makanan instan.
Erwin menegaskan makanan instan tidak selalu buruk, asalkan konsumen memperhatikan proses produksi, teknologi pengemasan, dan kandungan nutrisinya.
Menurut Erwin, masyarakat cenderung membeli makanan dalam jumlah banyak tanpa memperhatikan komposisinya. Ia menekankan pentingnya literasi konsumen dalam memilih makanan instan.
“Kebiasaan masyarakat itu beli banyak banget makanan tanpa melihat apa yang dia beli, salah satunya adalah komposisinya,” ujar Erwin.
Makanan instan homemade, seperti rendang siap saji yang hanya perlu dipanaskan, bisa menjadi pilihan yang lebih baik. Produk ini biasanya tidak menggunakan pengawet kimia berlebihan dan mengandalkan teknologi pengemasan seperti vacuum sealer untuk menjaga kualitas.
“Misalnya makanan instan daging homemade, rendang yang hanya di-microwave saja, itu bagus karena memang tidak ada pengawet yang lain. Hanya menggunakan teknologi pengemasan seperti vacuum sealer,” jelas dia.
Teknologi pengemasan modern memungkinkan makanan bertahan lebih lama tanpa banyak tambahan zat kimia. Konsumen tetap perlu cermat membaca label komposisi dan nilai gizi sebelum membeli.
Perhatikan Kandungan Gizi
Puasa bukan berarti tubuh tidak membutuhkan nutrisi lengkap. Kebutuhan makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin, mineral) tetap harus terpenuhi saat sahur dan berbuka.
Banyak produk instan cenderung tinggi garam, gula, atau lemak jenuh. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan mudah haus, cepat lelah, hingga gangguan metabolisme.
Makanan kalengan seperti sarden memang praktis, namun kandungan natriumnya relatif tinggi akibat proses pengawetan.
“Boleh enggak sih makan sarden setiap hari untuk sahur? Ya boleh-boleh saja makan, tapi seminggu tiga kali aja karena kandungan natriumnya tinggi. Kenapa tinggi? Karena proses pengawetan paling sederhana ya menggunakan natrium atau gula,” papar Erwin.
Literasi Konsumen adalah Kunci
Erwin menekankan bahwa kunci utama bukanlah melarang konsumsi makanan instan, melainkan meningkatkan literasi konsumen. Membaca label, memahami komposisi, dan membatasi frekuensi konsumsi adalah langkah penting agar Ramadan tetap sehat.
Membeli makanan instan dalam jumlah banyak tidak masalah, asalkan dilakukan dengan prinsip gizi seimbang.
"Pemilihan produk yang tepat justru dapat membantu menjaga stamina selama berpuasa. Kepraktisan memang penting, tetapi kualitas gizi tetap menjadi fondasi utama. Sahur instan boleh saja, selama tetap cerdas memilih dan tidak melupakan prinsip gizi seimbang," ujar dia.