Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan tidak khawatir dengan kenaikan harga minyak yang disebabkan oleh konflik dengan Iran yang dimulai sejak Sabtu (28/2).
Menurut Trump, harga minyak akan mengalami penurunan signifikan setelah konflik tersebut berakhir. Kenaikan harga minyak dunia tercatat sebesar 16% sejak serangan pertama AS dan Israel terhadap Iran pada akhir bulan lalu.
Kondisi ini menyebabkan kenaikan rata-rata harga bahan bakar minyak (BBM) nasional di AS sebesar 27 sen sejak minggu lalu, menjadi US$ 3,25.
"Saya tidak khawatir soal itu. Harga akan turun sangat cepat setelah ini berakhir, dan jika naik, ya naik saja, tetapi ini jauh lebih penting daripada kenaikan harga bensin sedikit," kata Trump dikutip dari Reuters, Jumat (6/3/2026).
Trump menambahkan bahwa dirinya belum berencana untuk menggunakan cadangan minyak strategis karena ia memperkirakan penutupan Selat Hormuz tidak akan berlangsung lama. Ia mengklaim bahwa pengiriman minyak di jalur tersebut akan tetap berjalan karena pasukan AS berhasil menenggelamkan angkatan laut Iran.
Pernyataan Trump ini dinilai bertentangan dengan pidato kenegaraannya di Texas bulan lalu, di mana ia membahas tentang penurunan harga BBM.
Sejumlah analis politik berpendapat bahwa kenaikan harga BBM dapat membahayakan pemilih Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu November mendatang. Konstituen Partai Republik disebut mulai merasa tidak senang dengan tingginya biaya hidup dan kepemimpinan Trump dalam perekonomian.
Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles dan Menteri Energi AS Chris Wright telah berkoordinasi dengan sejumlah perusahaan minyak untuk mengatasi kenaikan harga BBM. Seorang pejabat Gedung Putih juga mengklaim tengah berupaya keras mengembangkan langkah untuk menurunkan harga BBM.
Pejabat tersebut menyatakan bahwa Wiles telah memperingatkan bahwa kegagalan menekan harga BBM menjadi ancaman bagi Partai Republik dalam pemilihan. Gedung Putih saat ini juga tengah mempertimbangkan pergerakan pasar berjangka minyak untuk mengatasi lonjakan harga.