Donald Trump Unggah Gambar AI Mirip Yesus di Media Sosial

Donald Trump menuai kecaman luas setelah mengunggah gambar AI yang menampilkan dirinya sebagai sosok menyerupai Yesus di platform Truth Social.

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya sebagai sosok menyerupai Yesus di media sosial Truth Social pada awal Februari 2026. Unggahan tersebut memicu gelombang kecaman luas dari netizen hingga pendukung setianya.

Dilansir dari Detik iNET, ilustrasi tersebut memperlihatkan Trump dengan cahaya memancar dari tangannya saat sedang menyembuhkan seorang pasien di ranjang rumah sakit. Pada latar belakang gambar, tampak sosok iblis yang sedang melayang mengintai sang presiden.

Trump diketahui segera menghapus unggahan tersebut setelah menghadapi reaksi negatif yang masif. Langkah ini dilakukan di tengah serangkaian kritik tajam yang ia layangkan kepada Paus Leo XIV melalui platform media sosial yang sama.

Kritik pedas datang dari kalangan konservatif, termasuk pembawa podcast Fox News, Riley Gaines. Melalui akun X miliknya, ia mempertanyakan motivasi di balik unggahan tersebut dan menekankan pentingnya sikap rendah hati bagi seorang pemimpin.

"Apakah dia mencari reaksi? Apakah dia benar-benar berpikir seperti ini? Apa pun itu, ada dua hal yang benar: 1) sedikit kerendahan hati akan sangat baik baginya 2) Tuhan tidak bisa dipermainkan," kata Riley Gaines, Komentator Konservatif.

Penulis media konservatif Daily Wire, Megan Basham, turut memberikan kecaman keras dengan menyebut unggahan tersebut sebagai bentuk penistaan. Ia mendesak agar Trump segera meminta maaf kepada rakyat Amerika Serikat dan kepada Tuhan atas konten tersebut.

Berdasarkan laporan laporan Guardian, gambar AI ini pertama kali beredar di platform X melalui unggahan komentator Nick Adams. Namun, versi yang dibagikan Trump telah dimodifikasi dengan mengganti siluet tentara menjadi sosok iblis bertanduk.

Menanggapi polemik tersebut, Wakil Presiden JD Vance memberikan pembelaan dengan menyebut unggahan itu sebagai sebuah candaan. Menurutnya, penghapusan konten dilakukan karena banyak pihak yang gagal memahami selera humor yang ingin disampaikan oleh Trump.

Recommended