UGM Pertanyakan Klaim Kebutuhan 19 Ribu Sapi per Hari Program MBG

Guru Besar UGM, Prof. Panjono, mempertanyakan klaim kebutuhan 19 ribu sapi per hari untuk program MBG dan meminta transparansi data.

Klaim Badan Gizi Nasional (BGN) bahwa program MBG membutuhkan 19 ribu ekor sapi per hari menuai pertanyaan. Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Panjono, menilai angka ini perlu dikaji ulang dan dijelaskan secara transparan.

Menurutnya, klaim tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Menu MBG saat ini lebih banyak menggunakan ayam, telur, dan ikan. Prof. Panjono mempertanyakan ketersediaan sapi jika benar 19 ribu ekor dipotong setiap hari.

Program MBG adalah program strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM melalui pemenuhan gizi. Program ini diharapkan dapat menurunkan angka stunting, wasting, dan anemia, serta menciptakan permintaan pangan yang besar dan berkelanjutan bagi sektor pertanian dan peternakan.

Pada tahun 2026, MBG menargetkan 82,9 juta penerima manfaat. Hingga awal Januari 2026, realisasinya mencapai 55,1 juta orang atau 66,5 persen dari target nasional.

Data dan Keberlanjutan Program MBG

Prof. Panjono menekankan pentingnya kebijakan berbasis data dalam perencanaan produksi dan penguatan populasi sapi dalam negeri. Ia menghitung, jika 19 ribu sapi dipotong sehari dan empat kali sebulan, maka 912 ribu ekor sapi dipotong setahun.

Data BPS menunjukkan total populasi sapi di Indonesia pada tahun 2025 sekitar 13,5 juta ekor. Kementerian Pertanian menargetkan swasembada daging sapi pada tahun 2026 dengan proyeksi populasi sapi 19,96 juta ekor. Artinya, ada kekurangan 6,46 juta ekor.

Realisasi impor sapi bakalan anggota GAPUSPINDO menunjukkan angka 475.032 ekor pada 2024 dan 494.995 ekor pada 2025. Data ini menunjukkan pasokan sapi bakalan berada pada kisaran ratusan ribu ekor per tahun.

"Sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan MBG dan swasembada daging di tahun 2026. Tetapi kita harus tetap optimis untuk menuju ke sana. Tentu saja diperlukan upaya yang sangat luar biasa untuk mewujudkannya," tegas Panjono.

Panjono menambahkan bahwa peningkatan populasi sapi dalam negeri harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Ia menyarankan pembiakan dengan metode koloni terintegrasi dengan kebun sawit, kelapa, atau hutan tanaman industri.

Recommended