Ukraina Kirim Spesialis Militer Bantu Hadapi Ancaman Iran

Ukraina akan mengirim spesialis militer ke Timur Tengah untuk membantu menangkal ancaman drone dan rudal Iran. Zelensky telah menugaskan opsi bantuan.

Ukraina berencana mengirimkan sejumlah ahli militernya ke Timur Tengah. Langkah ini diambil sebagai upaya membantu menangkal ancaman drone serta rudal yang diluncurkan oleh Iran.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, melalui unggahannya di X, menyatakan bahwa dirinya telah menginstruksikan menteri luar negeri, menteri pertahanan, badan intelijen, serta sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina untuk menyiapkan opsi bantuan yang dapat diberikan kepada negara-negara yang membutuhkan.

Zelensky menekankan betapa masifnya serangan yang dilancarkan Iran. "Hanya dalam beberapa hari, Iran telah meluncurkan lebih dari 800 rudal dari berbagai jenis dan lebih dari 1.400 drone serang. Drone dan rudal Iran-lah yang menjadi ancaman utama bagi navigasi bebas, serta mengganggu stabilitas harga minyak, produk minyak bumi, dan gas global," tulisnya.

Ia juga mengungkapkan telah melakukan konsultasi dengan sejumlah mitra di Eropa dan Amerika Serikat, serta para pemimpin negara tetangga Iran, termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, dan Bahrain. Pembicaraan dengan Kuwait dan negara lain di kawasan itu sedang direncanakan.

Zelensky menambahkan, "Mereka semua menghadapi tantangan serius dan membicarakannya secara terbuka: drone serang Iran ini adalah 'Shahed' yang sama dengan yang telah menyerang kota-kota, desa-desa, dan infrastruktur Ukraina kita di sepanjang perang ini."

Drone Shahed 136, yang memiliki desain sayap delta buatan Iran, telah lama digunakan oleh pasukan Rusia dalam konflik yang sedang berlangsung di Ukraina. Senjata yang relatif terjangkau, dengan biaya produksi sekitar USD 50.000, kini menjadi perhatian serius dalam dinamika konflik AS-Israel melawan Iran.

Drone-drone ini dilaporkan telah menyerang sekutu regional Washington, termasuk UEA, Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Yordania. Iran diduga berupaya menimbulkan kerusakan pada negara-negara Teluk yang memiliki hubungan baik dengan AS, atau yang menjadi tempat bagi pasukan AS.

Menurut para pejabat pemerintahan Trump dalam sebuah pengarahan tertutup di Capitol Hill, kehadiran drone serang ini menghadirkan tantangan besar bagi militer AS. Sistem pertahanan udara seringkali kesulitan mendeteksi dan mencegat seluruhnya karena kemampuan drone tersebut untuk terbang rendah dan lambat.

Selain itu, penggunaan drone ini menyebabkan pasukan Amerika dengan cepat menghabiskan persediaan amunisi yang mahal dan sulit diproduksi. Drone ini berpotensi menyusup dan merusak pangkalan, pelabuhan, serta infrastruktur penting saat sistem pertahanan mulai kewalahan. Dilaporkan sebuah serangan drone bahkan menyebabkan enam anggota militer AS tewas di Kuwait.

Ukraina sendiri memiliki pengalaman signifikan dalam menghadapi ancaman Shahed, mengingat Rusia telah menggunakannya untuk menyerang kota, infrastruktur, dan posisi militer mereka sejak tahun 2022. Zelensky menyatakan bahwa para ahli Ukraina yang dikirim ke Timur Tengah akan beroperasi langsung di lapangan.

Zelensky menyampaikan, "Kami siap membantu melindungi nyawa, membela warga sipil, dan mendukung upaya nyata untuk menstabilkan situasi, dan khususnya, memulihkan navigasi yang aman di kawasan tersebut," seperti dikutip detikINET dari The Hill.

Recommended