Nuryadi, yang akrab disapa Mas Nur, berhasil mengembangkan usaha kuliner Baso Aci Mastyo dari rumahnya. Perjalanan ini dimulai dari profesinya sebagai mitra pengemudi, yang kemudian memanfaatkan platform digital dan dukungan komunitas untuk 'naik kelas' menjadi pelaku usaha.
Kisah inspiratif ini, seperti dilansir dari Medcom, menunjukkan bagaimana pengalaman di lapangan, adaptasi terhadap tren pasar, dan strategi digitalisasi menjadi kunci kesuksesan. Saat ini, hampir 90 persen penjualan Baso Aci Mastyo berasal dari pesanan daring.
Perjalanan Mas Nur menuju kesuksesan tidak terjadi secara instan. Ia melalui berbagai fase kehidupan, mulai dari bekerja sebagai karyawan hingga menjadi mitra pengemudi. Semua ini ia jalani dengan harapan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Mas Nur bergabung sebagai Mitra Pengemudi sekitar tahun 2019. Dari pengalamannya mengantarkan pesanan pelanggan setiap hari, ia mulai memahami potensi besar usaha kuliner berbasis online. "Dulu waktu jadi driver, saya terbiasa menunggu orderan masuk. Tapi ketika mulai punya usaha sendiri, saya harus berpikir setiap hari bagaimana caranya supaya usaha tetap berjalan dan bisa berkembang," ujarnya, dikutip dari Medcom.
Adaptasi Cepat di Tengah Perubahan Tren
Langkah pertama Mas Nur dalam dunia usaha adalah bisnis Salad Buah Arjuna. Ia memilih menu ini karena pada saat itu salad buah, asinan, dan rujak sedang populer di platform pesan-antar makanan. Namun, pandemi COVID-19 mengubah tren pasar, dan permintaan salad buah mulai menurun.
Alih-alih menyerah, Mas Nur mencari peluang baru dengan mengamati menu yang sedang diminati pelanggan. Dari sanalah ia menemukan bahwa seblak dan baso aci menjadi makanan yang digemari. Berbekal peluang tersebut, ia merintis Baso Aci Mastyo pada tahun 2020. Nama "Mastyo" sendiri diambil dari nama anak pertamanya, sebagai simbol harapan untuk masa depan keluarganya.
Menembus Keterbatasan Lokasi dengan Digitalisasi
Usaha Baso Aci Mastyo berada di gang yang cukup sempit, sehingga sulit mengandalkan pelanggan yang datang langsung. "Kalau hanya mengandalkan pelanggan sekitar tempat tinggal, tentu sangat terbatas. Tanpa digitalisasi, 'kolam usaha' kita juga jadi jauh lebih kecil," kata Mas Nur.
Oleh karena itu, sejak awal ia fokus memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas. Mas Nur aktif menggunakan berbagai fitur yang tersedia untuk meningkatkan visibilitas Baso Aci Mastyo, termasuk layanan promosi dan fitur GrabAds yang membantunya bersaing di platform digital.
Strategi Promosi dan Peningkatan Penjualan
Mas Nur juga mengimbangi penggunaan fitur promosi dengan strategi lain, seperti memberikan promo ongkos kirim untuk menarik pelanggan dari jarak yang lebih jauh. "Biasanya saya kasih promo free ongkir sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 dengan minimal pembelian sekitar Rp150.000, supaya pelanggan tetap tertarik untuk pesan meskipun jaraknya agak jauh," jelasnya.
Strategi ini membuahkan hasil. Menu andalannya, Baso Aci Tulang Rangu, kini menjadi favorit pelanggan. Saat ini, Baso Aci Mastyo mampu menjual sekitar 70 hingga 80 porsi per hari, dengan hampir 90 persen penjualan berasal dari pesanan online melalui platform digital.
Dukungan Komunitas dan Prinsip Amanah
Dalam menjalankan usaha, Mas Nur dibantu oleh istri, adik, serta beberapa karyawan. Selain itu, komunitas merchant juga menjadi bagian penting dalam perjalanannya. "Di komunitas ini kami sering saling membantu dan berbagi pengalaman. Ketika ada yang mengalami kesulitan, teman-teman lain turut memberikan dukungan. Saya merasa usaha ini tidak akan berkembang sejauh ini tanpa dukungan komunitas," tuturnya.
Mas Nur selalu memegang prinsip amanah dan kejujuran dalam bisnisnya. Ia percaya, untuk bisa "naik kelas", seseorang harus berani mengambil keputusan dan tidak takut mencoba hal baru. "Kalau ingin memulai usaha, mulai saja dulu. Jangan terlalu takut. Bisnis yang tidak pernah berjalan adalah bisnis yang tidak pernah dimulai," pesannya.