Penemuan fosil pada 1857 oleh ahli paleontologi Inggris, Richard Owen, sempat menimbulkan klaim mengenai keberadaan spesies ular beludak raksasa. Namun, temuan tersebut terlupakan selama 157 tahun hingga sebuah fosil tunggal kembali ditemukan di dekat Thessaloniki, Yunani, memvalidasi penemuan Owen sebelumnya.
Owen, yang juga dikenal sebagai pencipta istilah dinosaurus, awalnya mendeskripsikan 13 fosil tulang belakang ular raksasa yang ia namai Laophis crotaloides. Dari analisis fosil, ia memperkirakan ular ini memiliki berat sekitar 25,8 kg dan panjang antara 3 hingga 4 meter.
Perkiraan ukuran Laophis crotaloides ini signifikan jika dibandingkan dengan King Kobra, yang saat ini diakui sebagai ular berbisa terbesar. King Kobra bisa tumbuh hingga 5,5 meter, namun beratnya jarang melebihi 9 kg. Dengan demikian, berat Laophis crotaloides diperkirakan mencapai sekitar tiga kali lipat King Kobra.
Spesies Laophis crotaloides diyakini hidup sekitar 4 juta tahun lalu di Yunani, dan kemungkinan di wilayah lain di Bumi. Mereka mendiami daerah dengan padang rumput, vegetasi lebat, serta kondisi cuaca dingin. Kemampuan mereka bertahan hidup dan mencapai ukuran masif di iklim seperti itu, mengingat sebagian besar ular modern berhibernasi saat musim dingin, menjadi sebuah misteri.
Penelitian mengenai Laophis crotaloides masih terus berlangsung, termasuk upaya untuk mengidentifikasi wilayah persebarannya. Meskipun belum banyak informasi yang terungkap, diperkirakan ular ini, sebagai jenis beludak, memiliki bisa serupa dengan beludak masa kini.
Bisa beludak umumnya menyerang jaringan tubuh, yang dapat menyebabkan nekrosis (kematian jaringan) dan koagulopati (gangguan pembekuan darah), serta rasa sakit yang hebat. Ular ini juga dilengkapi taring solenoglyphous yang panjang dan berongga, memungkinkan penyuntikan bisa secara efektif seperti jarum.
Seorang peneliti, Georgios Georgalis, meyakini Laophis crotaloides memiliki pola makan serupa dengan ular modern, meskipun hidup berdampingan dengan hewan-hewan berukuran besar. Ia berpendapat bahwa mangsa utama mereka adalah mamalia kecil seperti hewan pengerat.
Georgalis pernah mempresentasikan temuannya kepada Society of Vertebrate Paleontology di Berlin. "Ular ini memang sangat mengesankan. Kita benar-benar sedang membicarakan seekor monster!" ujarnya, dikutip dari Detik iNET.
Rasa penasaran Georgalis tidak hanya berpusat pada ukuran ular tersebut, melainkan juga pertanyaan tentang keberadaan "monster" semacam itu di wilayah beriklim sedang Eropa. Sekitar 4 juta tahun lalu, Bumi mengalami pendinginan iklim, yang memicu kemunculan ekosistem padang rumput modern.
Wilayah penemuan Laophis juga merupakan habitat kura-kura raksasa, beberapa di antaranya tumbuh seukuran mobil. Dengan iklim yang sangat dingin, bagaimana ular dan kura-kura purba ini menjaga metabolisme agar tetap aktif dan tumbuh raksasa masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan.