Pinjaman peer-to-peer (P2P) atau pinjaman daring (pindar) menjadi opsi pendanaan alternatif bagi UMKM, selain bank. Bahkan, di tengah ketidakpastian ekonomi, banyak UMKM yang mulai beralih ke pindar.
Menurut Senior Analyst Katadata Insight Center, Hanif Gusman, pengajuan pendanaan UMKM ke pindar disebabkan oleh rumitnya administrasi kredit di perbankan. Kemudahan proses pengajuan dan kecepatan pencairan dana menjadi daya tarik utama pindar.
Riset menunjukkan bahwa 66,7% UMKM memilih pindar karena proses pencairan yang lebih cepat dibandingkan bank. Selain itu, 64,7% UMKM menganggap platform pindar bermanfaat dalam kondisi darurat.
"Kita lihat bahwa beberapa hal yang membuat UMKM tidak menggunakan pinjaman dari perbankan, mulai dari proses pengajuan yang terlalu rumit, terus dokumen yang sulit ditemui, sehingga harus ada jaminan. Sementara pindar sendiri sebagai platform digital itu memiliki beberapa kelebihan. Pertama itu pencairan dana yang cepat, proses cepat dan mudah, hingga aplikasi yang lebih mudah digunakan," ungkap Hanif dalam acara Paparan Riset Industri Pindar di On3 Senayan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Hanif menjelaskan, outstanding industri pindar dari 2024 hingga Agustus 2025 mencapai Rp 87,48 triliun dengan 25,5 juta pengguna. Angka ini terus meningkat menjadi Rp 94,85 triliun per November 2025.
Penyaluran konsumtif oleh pindar menopang perekonomian negara dengan mendorong konsumsi rumah tangga, yang menjadi kontributor terbesar PDB Indonesia (52-58%) dalam lima tahun terakhir.
Di sektor produktif, pindar mendorong ekspansi bisnis UMKM. Riset menunjukkan 16,9% alokasi permodalan bisnis melalui pindar digunakan untuk pembelian bahan baku usaha.
Pinjaman UMKM melalui pindar berdampak langsung pada pendapatan mereka. "Kami juga melakukan perhitungan dampak multiplier dari pinjaman yang dipinjam oleh para UMKM ini terhadap usaha mereka, yang mana secara langsung itu juga berdampak pada pendapatan mereka. Di sini bisa terlihat, dampak finansial Rp 1 rupiah pinjaman yang dipinjam oleh UMKM tersebut berdampak terhadap omset per bulan," imbuhnya.
Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah, menyatakan bahwa kehadiran pindar memperkuat inklusi keuangan karena akses pendanaan dapat dilakukan di mana saja dengan koneksi internet.
Menurutnya, industri pindar menjadi katalisator perluasan penyaluran kredit yang sejalan dengan program Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Pindar berhasil menyalurkan kredit sekitar Rp 340 triliun atau Rp 30 triliun per bulan.
"Kalau kita bicara inklusi, salah satu inclusiveness-nya itu adalah, hadir secara geografis," ungkapnya.
Kuseryansyah menambahkan, permintaan kredit melalui pindar tinggi, dengan credit gap mencapai Rp 2.400 triliun berdasarkan data Financial Index World Bank. Hal ini menunjukkan tingginya kebutuhan kredit di sektor pindar.
"Demand kita itu, kalau bahasa istilahnya, berapa saja dimasukin, di Indonesia itu diserap karena kebutuhannya tinggi. Credit gap kita berdasarkan dari fintech, dari World Bank, tahun ini itu Rp 2.400 triliun, tahun ini saja," pungkasnya.