UMKM Garap Pasar Global Guna Hadapi Tekanan Biaya Produksi

Pelaku UMKM didorong melakukan ekspansi pasar internasional dan inovasi guna mengatasi kenaikan biaya produksi di tengah ekonomi global.

Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai memperluas akses pasar hingga ke level internasional sebagai strategi menghadapi lonjakan biaya produksi pada Minggu (26/4/2026). Langkah ekspansi global ini menjadi solusi utama untuk menjaga kelangsungan bisnis di tengah tekanan ekonomi dunia.

Data pembinaan menunjukkan penguatan kapasitas pelaku usaha melalui 1.323 sertifikasi dan 267 pelatihan yang terlaksana sepanjang periode Januari hingga Maret 2026. Selain itu, terdapat 179 pameran lokal yang telah difasilitasi untuk meningkatkan daya saing produk dalam negeri sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

VP CSR & SMEPP Management PT Pertamina (Persero), Rudi Ariffianto, menjelaskan bahwa daya tahan pelaku usaha saat ini sedang diuji oleh kenaikan beban operasional yang berdampak pada kemampuan jual. Namun, ia menilai indikator ekonomi nasional masih berada pada kondisi yang cukup stabil untuk mendukung pertumbuhan usaha.

"UMKM saat ini sedang diuji daya tahannya. Namun, indikator ekonomi kita menunjukkan kondisi yang cukup baik. Ketahanan yang kuat harus diiringi dengan inovasi dan kegigihan agar UMKM mampu membuka peluang pasar baru dan terus meningkatkan daya saingnya," ujar Rudi Ariffianto, VP CSR & SMEPP Management PT Pertamina (Persero).

Founder Kebab Turki Baba Rafi, Nilamsari Sahadewa, menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dan budaya kerja dalam menghadapi krisis. Saat ini, jaringan bisnisnya telah berkembang hingga memiliki lebih dari 1.600 outlet yang tersebar di 10 negara sebagai hasil dari penguatan strategi merek.

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menambahkan bahwa pendampingan berkelanjutan tetap diperlukan agar pelaku usaha lebih adaptif terhadap perubahan pasar yang dinamis. Komitmen ini bertujuan agar produk lokal mampu menembus pasar global yang lebih luas dan kompetitif.

Selain perluasan pasar, aspek efisiensi penggunaan energi turut menjadi faktor penentu dalam menekan beban produksi. Penerapan teknologi hemat energi diharapkan dapat membantu pelaku UMKM menjaga margin keuntungan di tengah fluktuasi harga bahan baku dan biaya operasional lainnya.

Recommended