Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) merayakan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia pada Kamis, 23 April 2026, sebagai bentuk penghormatan terhadap peran literasi dalam menghubungkan berbagai budaya global. Perayaan tahunan ini bertujuan memperkuat perlindungan hak cipta bagi penulis dan penerbit di seluruh dunia.
Dilansir dari Medcom, pemilihan tanggal 23 April didasari oleh alasan historis yang mendalam bagi dunia sastra internasional. Tanggal tersebut bertepatan dengan hari wafatnya sejumlah sastrawan terkemuka, termasuk William Shakespeare, Inca Garcilaso de la Vega, dan Miguel de Cervantes.
Gagasan awal peringatan ini diusulkan oleh penulis asal Valencia, Vicente Clavel Andr\u00e9s, yang mulanya ingin memberikan dedikasi khusus bagi Miguel de Cervantes. Selain para legenda tersebut, sastrawan besar lain seperti William Wordsworth dan David Halberstam juga tercatat meninggal dunia pada tanggal yang sama.
Evolusi medium bacaan turut menjadi sorotan dalam sejarah literasi, mulai dari penggunaan tablet tanah liat ribuan tahun lalu hingga penemuan mesin cetak pada abad ke-15. Bangsa China diketahui telah mengembangkan bentuk buku terjilid pertama menggunakan bilah bambu yang dijahit pada abad ke-3.
UNESCO juga melanjutkan tradisi penunjukan Ibu Kota Buku Dunia yang melibatkan kolaborasi dengan penerbit, penjual buku, dan perpustakaan internasional. Sejak dimulai di Madrid pada 2001, sebanyak 26 kota telah terpilih untuk mengemban misi promosi budaya membaca di wilayah masing-masing.
Untuk periode tahun 2025, Rio de Janeiro di Brasil telah ditetapkan sebagai pusat kegiatan literasi dunia. Fokus utama kota tersebut adalah menyebarkan kecintaan membaca di kawasan Amerika Latin melalui berbagai program sosial dan kebudayaan.
Selanjutnya, Kota Rabat di Maroko resmi terpilih sebagai Ibu Kota Buku Dunia untuk tahun 2026. Penunjukan ini menjadikan Rabat sebagai kota ke-26 yang mengemban mandat tersebut sekaligus memperkuat pengaruh literasi di wilayah Afrika dan dunia Arab.
"Buku adalah pembawa peradaban. Tanpa buku, sejarah diam, sastra bisu, sains lumpuh, dan pikiran serta spekulasi terhenti," tulis laporan tersebut menekankan pentingnya konten buku serta perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual bagi para kreator di masa depan.