Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya secara resmi mengukuhkan dua guru besar tetap baru pada April 2026. Acara pengukuhan ini menandai penambahan kekuatan akademik universitas di dua bidang ilmu penting: Linguistik serta Bisnis dan Manajemen.
Kedua profesor yang dikukuhkan adalah Prof. Christine Manara, Ph.D., sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Linguistik, dan Prof. Dr. Dra. Yasintha Soelasih, M.Si., sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Bisnis dan Manajemen. Sidang terbuka pengukuhan tersebut dipimpin oleh Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), seperti dilansir dari Medcom.
Acara penting ini turut dihadiri oleh Kepala LLDIKTI Wilayah III, Dr. Henri Togas Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., serta perwakilan dari Ditjen Diktiristek. Momen pengukuhan yang berlangsung di Gedung Yustinus, Unika Atma Jaya, pada Rabu, 8 April 2026, menjadi wujud syukur bagi para profesor yang baru dikukuhkan.
Dalam sambutannya, Yuda Turana menekankan bahwa pencapaian gelar profesor bukanlah akhir, melainkan titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ia mengajak para profesor untuk memastikan bahwa ilmu yang mereka miliki tidak hanya tinggi, tetapi juga memberikan makna dan solusi konkret bagi bangsa.
Rektor juga menyoroti pentingnya penerapan nilai dasar universitas, yaitu KUPP (Kristiani, Unggul, Profesional, dan Peduli). Menurut Yuda, aspek 'Unggul' dan 'Peduli' merupakan kesatuan tak terpisahkan dalam setiap pengabdian seorang akademisi. "Keunggulan tanpa kepedulian menjauhkan kita dari manusia, ilmu menjadi tinggi tapi tidak menyentuh kehidupan," tegas Yuda.
Ia menambahkan, "Sebaliknya, kepedulian tanpa keunggulan hanya akan berhenti pada niat baik tanpa daya untuk menghadirkan perubahan nyata." Oleh karena itu, para profesor diimbau untuk menjadi ilmuwan yang diakui secara global, tetapi tetap berorientasi pada penyediaan solusi bagi masyarakat.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Christine Manara, Ph.D., mengangkat isu diskriminasi linguistik yang kerap dianggap tabu dalam pengajaran bahasa Inggris di Indonesia. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap asumsi yang menempatkan pengajar lokal sebagai model bahasa yang kurang ideal dibandingkan penutur asing.
"Kami ingin mengajak semua pengambil keputusan untuk mempelajari ulang hal-hal diskriminatif seperti ini. Berikan kepercayaan pada guru bahasa Inggris di Indonesia bahwa kami profesional dan kompeten," ungkap Manara. Ia juga mengkritisi sistem evaluasi yang terlalu berfokus pada skor tes bahasa, yang menurutnya tidak selalu menguji kemampuan mengajar secara holistik.
Sementara itu, Prof. Dr. Dra. Yasintha Soelasih, M.Si., mempresentasikan risetnya mengenai pentingnya model manajemen yang adaptif dan berkelanjutan. Penelitiannya berupaya menyediakan landasan kuat bagi industri untuk menghasilkan nilai tambah yang signifikan di tengah dinamika ekonomi global dan potensi krisis.
Sejalan dengan semangat inovasi, Prof. Yasintha juga menyinggung tentang digitalisasi pelayanan penerbangan. Pemanfaatan teknologi biometrik wajah, dalam pandangannya, memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi operasional. Hal ini pada gilirannya dapat berkontribusi pada penurunan biaya penerbangan, sehingga harga tiket pesawat menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat.
"Kalau itu bisa digitalisasi, pasti meningkatkan efisiensi yang menimbulkan pengurangan biaya penerbangan," ujar Yasintha.
Menutup rangkaian acara, Kepala LLDIKTI Wilayah III, Henri Togas Hasiholan Tambunan, berharap agar seluruh hasil riset dari para guru besar ini dapat segera dihilirisasi. Ia berpesan agar karya-karya nyata para profesor baru tersebut dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas dan menginspirasi kemajuan bangsa.