Siswa tingkat SD/MI di seluruh Indonesia mulai mempersiapkan strategi manajemen waktu khusus guna menghadapi pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada April 2026 mendatang. Pengaturan durasi pengerjaan selama 75 menit menjadi fokus utama untuk meningkatkan efektivitas dan akurasi jawaban di ruang ujian digital.
Penguasaan materi bukan lagi menjadi satu-satunya penentu nilai maksimal dalam ujian kali ini. Dilansir dari Medcom, kemampuan menjaga fokus dan ketenangan saat mengelola waktu pengerjaan dinilai sebagai faktor krusial yang menentukan keberhasilan peserta didik.
Data dari unggahan Instagram Litbang Dikbud menunjukkan bahwa persiapan teknis harian sangat disarankan bagi para siswa. Peserta diimbau untuk berlatih di depan perangkat komputer setidaknya 10 menit setiap hari agar koordinasi mata dan jari tetap optimal selama ujian berlangsung.
Metode belajar secara bertahap atau sistem 'cicil' dengan durasi 20 hingga 30 menit per sesi dianggap lebih efektif dibandingkan sistem belajar semalam. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga stamina mental dan mencegah kelelahan otak yang kronis sebelum hari pelaksanaan tiba.
Dalam teknis pengerjaan, siswa diarahkan untuk memprioritaskan butir soal yang dianggap mudah guna mengamankan poin awal. Jika menghadapi pertanyaan yang sulit, peserta disarankan segera menandai dan melewati soal tersebut agar tidak terjebak dalam pemborosan waktu.
Penguatan pemahaman materi juga dilakukan melalui metode diskusi bersama guru atau rekan sejawat untuk mempercepat daya analisis. Melalui interaksi aktif, kesulitan dalam memahami konsep dasar diharapkan dapat teratasi sebelum sistem ujian digital dimulai.
Pengecekan ulang terhadap jawaban yang diragukan menjadi langkah penutup dalam strategi manajemen waktu ini. Sisa waktu yang tersedia wajib dimanfaatkan untuk memastikan tidak ada kesalahan teknis sebelum peserta mengakhiri sesi ujian mereka.