Rumah Zakat optimistis dapat menjangkau 3 juta penerima manfaat pada tahun 2026. Target tersebut didukung oleh peningkatan kepercayaan masyarakat yang terefleksi dari total penghimpunan dana sebesar Rp168 miliar sepanjang 2025.
CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha, menjelaskan bahwa perjalanan panjang lembaganya sejak berdiri pada tahun 1998 menunjukkan evolusi pendekatan filantropi. Dari sekadar bantuan sosial, kini Rumah Zakat bergerak menuju model pemberdayaan dan dampak sosial yang lebih berkelanjutan.
Pada fase awal, program berfokus pada kegiatan amal (charity) dan perlindungan sosial. Pendekatan ini tetap dipertahankan karena masih banyak masyarakat yang hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem.
"Seiring waktu, pendekatan tersebut kemudian berkembang ke arah pemberdayaan berkelanjutan. Fokusnya tidak lagi sekadar membantu, tetapi mendorong penerima manfaat untuk mampu keluar dari garis kemiskinan. Indikator keberhasilan pun bergeser, dari jumlah bantuan yang disalurkan menjadi perubahan kondisi ekonomi masyarakat,” tegas Irvan dalam Public Expose Rumah Zakat, seperti dikutip dari Medcom.
Transformasi ini berlanjut dengan adopsi pendekatan social enterprise. Berbagai unit layanan seperti Sekolah Juara, klinik, hingga badan usaha milik masyarakat didorong untuk mandiri secara ekonomi, menciptakan siklus manfaat berkelanjutan.
Kini, Rumah Zakat memperkuat langkah tersebut melalui pendekatan dampak sosial yang lebih luas. Mereka tidak hanya berfokus pada program internal, tetapi juga menggandeng berbagai pihak, termasuk lembaga keuangan syariah, untuk memperkuat ekosistem yang sudah terbentuk.
Dampak program terlihat nyata sepanjang tahun 2025. Sekitar 1,8 juta penerima manfaat merasakan hasil program yang dijalankan. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.800 orang berhasil keluar dari garis kemiskinan, 437 orang berkembang menjadi munfiq, dan 52 orang meningkat menjadi muzaki.
Program pemberdayaan ini aktif dijalankan di 463 desa berdaya, dengan pendekatan komprehensif yang mencakup lima sektor utama: ekonomi, kesehatan, sosial, pendidikan, dan lingkungan. Strategi ini mencakup bantuan, penguatan kelembagaan, hingga advokasi.
Salah satu contoh keberhasilan pendekatan dampak sosial ini adalah pengembangan koperasi berbasis masyarakat. Melalui pembinaan, koperasi tidak hanya meningkatkan kesejahteraan anggota, tetapi juga mendorong perubahan status penerima manfaat menjadi pihak yang kembali berkontribusi.
Selain program pemberdayaan, Rumah Zakat juga aktif dalam respons kebencanaan. Sepanjang 2025, relawan Rumah Zakat melakukan 144 aksi tanggap bencana di berbagai wilayah Indonesia, termasuk penanganan banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
"Keterlibatan tersebut bahkan meluas ke tingkat global, dengan partisipasi dalam aksi kemanusiaan di sekitar 14 negara,” kata Irvan.
Dalam kesempatan Public Expose 2026, Rumah Zakat juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur, mitra, pemangku kepentingan, serta seluruh pihak yang telah memberikan kepercayaan dan dukungan.
Menurut Irvan, kolaborasi menjadi kunci utama dalam memperluas dampak ke depan. Rumah Zakat ingin memposisikan diri sebagai 'hub of goodness', sebuah wadah bertemunya berbagai inisiatif kebaikan. Dengan pendekatan ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang tidak hanya terbantu, tetapi juga mampu bangkit dan berkontribusi, sehingga dampak sosial yang dihasilkan menjadi lebih luas dan berkelanjutan.