Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang meningkat sejak Sabtu (28/2), menyebabkan harga Bitcoin mengalami fluktuasi. Konflik ini mengakibatkan Iran menutup Selat Hormuz, memicu kenaikan harga minyak hingga US$ 80 per barel.
Selain minyak, harga emas dunia juga melonjak, mencapai kisaran US$ 5.100 per troy ons. Pasar kripto pun ikut merasakan dampaknya karena beroperasi selama 24 jam.
Menurut data Coinmarketcap, pada akhir pekan, harga Bitcoin sempat turun ke level US$ 63.100 atau sekitar Rp 1 miliar (dengan asumsi kurs Rp 16.930). Namun, kemudian bergerak naik di kisaran US$ 68.000 atau sekitar Rp 1,16 miliar, dengan kapitalisasi pasar kripto global sekitar US$ 2,33 triliun.
Antony Kusuma, Vice President INDODAX, menjelaskan bahwa volatilitas harga Bitcoin mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan geopolitik dan risiko makro. Pada awal gejolak, investor cenderung mengurangi risiko untuk menjaga likuiditas.
"Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven. Dalam situasi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto," ujar Antony dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3/2026).
Antony menyarankan agar investor mempertimbangkan aset yang lebih defensif jika ketidakpastian terus berlanjut. Ia menekankan pentingnya menghindari keputusan yang didorong oleh FOMO (Fear of Missing Out), menerapkan diversifikasi portofolio, dan manajemen risiko secara disiplin.
Diversifikasi aset dapat dilakukan dengan mengalihkan sebagian dana ke stablecoin yang saat ini menguat, seperti Tether (USDT), USD Coin (USDC), atau Tether Gold (XAUT).
"Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, diversifikasi portofolio menjadi salah satu pendekatan yang banyak dilakukan, termasuk mengalihkan sebagian eksposur ke aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), atau aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang tengah menguat, sembari tetap menjaga alokasi terukur pada aset utama," jelas Antony.
INDODAX berkomitmen untuk menjaga likuiditas, keamanan sistem, dan transparansi di tengah gejolak harga Bitcoin. Antony juga mengimbau investor untuk tetap rasional dalam menghadapi volatilitas pasar.
"Di tengah dinamika geopolitik, disiplin manajemen risiko serta memiliki perspektif investasi jangka panjang tetap menjadi kunci untuk bersikap rasional dan adaptif menghadapi ketidakpastian global," pungkasnya.