Konflik yang melibatkan Iran telah memicu gejolak di Wall Street, menyebabkan harga minyak melonjak dan imbal hasil obligasi meningkat. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi inflasi dan perubahan kebijakan suku bunga.
Indeks-indeks utama seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq mengalami penurunan karena investor berupaya mengevaluasi dampak konflik ini terhadap ekonomi global dan profitabilitas perusahaan.
Lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah berpotensi memperburuk inflasi, yang dapat mendorong bank sentral AS untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Pasar saham sering kali kurang diuntungkan oleh suku bunga yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh peningkatan biaya pinjaman perusahaan, potensi perlambatan konsumsi masyarakat, dan tekanan terhadap valuasi saham.
Investor cenderung mengurangi risiko di tengah ketidakpastian geopolitik, mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman atau memberikan imbal hasil yang lebih stabil.
Sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya energi, seperti transportasi dan industri, berpotensi menghadapi dampak yang lebih signifikan.
Penurunan juga dialami oleh pasar saham di negara lain. Indeks di Jerman, Jepang, dan pasar global lainnya melemah sejak konflik meningkat, mengindikasikan kekhawatiran investor terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
Di negara berkembang seperti India, sektor keuangan mengalami penurunan tajam akibat gejolak geopolitik dan kekhawatiran terhadap dampak makroekonomi dari lonjakan harga energi.