Sejumlah pembocor informasi atau whistleblower fenomena udara tak teridentifikasi (UFO) di Amerika Serikat melaporkan serangkaian tindakan intimidasi dan tekanan berat setelah mengungkap informasi sensitif kepada publik pada Minggu (3/5/2026). Situasi ini memicu kekhawatiran terkait keselamatan para saksi yang berupaya mendorong transparansi pemerintah.
Jurnalis investigasi Jeremy Corbell mengungkapkan bahwa para whistleblower menghadapi risiko besar, mulai dari kehilangan izin keamanan hingga ancaman terhadap anggota keluarga. Laporan ini dilansir dari Detik iNET yang merujuk pada kesaksian para veteran militer AS.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah kematian misterius Matthew Sullivan, mantan perwira intelijen Angkatan Udara AS, pada tahun 2024. Sullivan dijadwalkan memberikan kesaksian terkait program UFO di hadapan Kongres sebelum ditemukan meninggal dunia.
"Waktunya sangat tidak biasa. Ada banyak hal yang tidak diketahui publik dan sedang diselidiki," ujar Jeremy Corbell, jurnalis investigasi. Kasus kematian pria berusia 39 tahun ini kini dalam perhatian Federal Bureau of Investigation (FBI) dan anggota Kongres.
Selain kasus Sullivan, veteran Angkatan Udara Dylan Borland mengaku mengalami pelecehan sistematis setelah memberikan kesaksian di Kongres pada 2025. Borland melaporkan pertemuannya dengan objek terbang berbentuk segitiga hitam metalik sepanjang 100 kaki di dekat Pangkalan Angkatan Udara Langley, Virginia.
Borland menyatakan bahwa sejak memberikan kesaksian, ia dan keluarganya mengalami bentuk pelecehan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Intimidasi tersebut diduga bertujuan untuk membungkam para saksi yang mengetahui keberadaan teknologi non-manusia.
Whistleblower lain, Matthew Brown, mengklaim adanya program rahasia bernama Immaculate Constellation yang berfokus pada pengumpulan data fenomena udara. Sejak muncul ke publik pada Mei 2025, Brown melaporkan pembobolan rumah, penyusupan jaringan pribadi, hingga kampanye disinformasi untuk merusak kredibilitasnya.
Corbell menegaskan bahwa tekanan yang dialami para saksi tidak selalu berupa ancaman fisik, melainkan serangan terencana di dunia maya. Banyak dari mereka merasa kehilangan tempat berlindung setelah melepaskan karier militer demi mengungkap kebenaran terkait fenomena UAP.
Dorongan untuk transparansi mengenai keberadaan teknologi non-manusia terus meningkat di Kongres AS sejak laporan resmi mulai dibuka pada 2017. Namun, para whistleblower menilai biaya sosial dan psikologis yang harus dibayar masih sangat tinggi karena kurangnya perlindungan hukum yang memadai.