PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) terus berperan aktif dalam pengembangan infrastruktur nasional melalui proyek strategis Jalan Tol Ancol Timur-Pluit (Elevated) atau yang dikenal sebagai Harbour Road II. Proyek ini diharapkan dapat menjadi solusi vital untuk mengatasi kemacetan lalu lintas dan meningkatkan konektivitas di wilayah Jakarta Utara, demikian dilansir dari Detik Finance.
Jalan tol layang sepanjang 9,67 kilometer ini membentang dari Ancol Timur hingga Pluit, melintasi area penting seperti Tanjung Priok dan Jalan RE Martadinata. Keberadaan Harbour Road II diproyeksikan dapat memperkuat kapasitas jalan yang sudah ada dan memperlancar distribusi logistik menuju area pelabuhan serta pusat aktivitas ekonomi.
WIKA mengerjakan proyek Harbour Road II bersama PT Girder Indonesia (GI) melalui skema design and build. Nilai kontrak yang ditangani WIKA mencapai Rp5,82 triliun, tidak termasuk PPN. Hingga kuartal I tahun 2026, progres fisik pekerjaan yang menjadi tanggung jawab WIKA telah mencapai 32,31%.
Manager Proyek Pembangunan Jalan Tol Ancol Timur – Pluit (Harbour Road II) Wijaya Karya, Hari Purnama, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan salah satu order book signifikan yang menopang kinerja operasional perseroan. WIKA bertanggung jawab penuh dari aspek teknis hingga konstruksi jalan tol layang tersebut.
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito (Agung BW), menyatakan bahwa proyek ini tidak hanya fokus pada konstruksi fisik, tetapi juga menghadirkan inovasi dan nilai tambah bagi masyarakat. "Harbour Road II merupakan salah satu proyek strategis yang menunjukkan kapabilitas WIKA dalam menghadirkan solusi infrastruktur modern di tengah kompleksitas kawasan urban," ujar Agung BW, Senin (6/4/2026).
Agung BW juga menegaskan komitmen WIKA untuk menyelesaikan proyek dengan kualitas terbaik, tepat waktu, serta memberikan dampak positif pada mobilitas dan pertumbuhan ekonomi. Proyek ini ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026, dengan masa konstruksi 1.697 hari kalender dan masa pemeliharaan 730 hari.
Tantangan dan Strategi Penyehatan Perusahaan
Meskipun nilai kontraknya besar, pembangunan Harbour Road II menghadapi tantangan dalam pembebasan lahan yang baru mencapai 45%. Hari Purnama menyebutkan bahwa ada sisa lahan sepanjang 1 kilometer di sisi Selatan yang perlu segera dibebaskan agar target operasional pada akhir tahun ini dapat tercapai.
Proyek infrastruktur strategis seperti Tol HBR II ini sejalan dengan misi penyehatan perseroan untuk kembali fokus pada bisnis inti sebagai kontraktor murni. Strategi ini diambil untuk mengurangi risiko investasi jangka panjang yang dapat membebani neraca keuangan perusahaan.
Per Februari 2026, WIKA mengelola total 85 proyek yang sedang berjalan, dengan nilai kontrak keseluruhan mencapai Rp31,35 triliun. Agung optimistis terhadap kinerja perseroan ke depan. "Tahun 2026 adalah tahun kebangkitan. Setelah tahun 2025 masa pemerintahan baru, ada efisiensi, saya meyakini bahwa 2026 akan lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya," pungkas Agung.
Sepanjang tahun lalu, WIKA berhasil membukukan kontrak baru sebesar Rp17,46 triliun, menggenapi total nilai kontrak berjalan (order book) perseroan menjadi Rp50,52 triliun. Dari pencapaian tersebut, emiten BUMN Karya ini mencatatkan penjualan sebesar Rp20,45 triliun, yang terdiri dari penjualan non-Kerja Sama Operasi (KSO) Rp13,33 triliun dan penjualan KSO Rp7,12 triliun.
Inovasi Desain dan Metode Konstruksi
Keunggulan utama Harbour Road II terletak pada desain dan metode konstruksinya yang unik. Proyek ini menerapkan struktur jalan layang bertingkat tinggi, mencapai ketinggian sekitar 38 meter di atas permukaan tanah, menjadikannya salah satu struktur elevated tertinggi di wilayah perkotaan padat.
Selain itu, proyek ini menggunakan teknologi segmented box girder dengan lebar mencapai 14,3 meter, yang termasuk kategori terlebar tanpa ribs. Inovasi ini memberikan efisiensi sekaligus kekuatan struktur yang optimal. Harbour Road II juga mencatat bentang steel box girder terpanjang tanpa shoring hingga 70 meter.
Pembangunan dilakukan secara end-to-end elevated di tengah keterbatasan ruang, berdampingan dengan jalan tol eksisting, jalur kereta api, sungai, serta kawasan permukiman dan bangunan yang sudah ada. Kondisi ini menuntut penerapan metode konstruksi dengan presisi tinggi, termasuk bored pile, column pier, pier head, hingga erection girder yang terintegrasi. Dengan berbagai keunggulan ini, Harbour Road II tidak hanya menjadi proyek infrastruktur biasa, tetapi juga merepresentasikan inovasi konstruksi modern di Indonesia.
Dampak Positif bagi Jakarta Utara
Kehadiran jalan tol ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan dalam mengurangi kemacetan, meningkatkan efisiensi logistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan pesisir utara Jakarta. Menurut Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, saat meninjau lokasi, tol ini akan menjadi solusi untuk mengurai kemacetan dan memperlancar arus logistik di kawasan utara Jakarta.
Tol layang ini dirancang dengan standar kecepatan 80 km/jam, lebar lajur 3,5 meter, dan dilengkapi junction di Ancol Timur serta Pluit, termasuk ramp penghubung dengan Harbour Road I. Dengan konektivitas yang lebih baik, distribusi barang diharapkan lebih efisien sehingga daya saing ekonomi nasional turut meningkat. Kehadiran tol ini juga memperkuat jaringan empat lingkar jalan tol Jabodetabek (Ring 1, Ring 2, JORR 1, dan JORR 2).