Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia dan Pasifik. Proyeksi ini menunjukkan angka 5,1% untuk tahun 2026 dan 2027, sebuah penurunan dari perkiraan sebelumnya, demikian dilansir dari Detik Finance.
Perlambatan ini sebagian besar disebabkan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Selain itu, ketidakpastian dalam kondisi perdagangan global juga turut membebani prospek ekonomi kawasan tersebut.
Menurut edisi April 2026 dari Asian Development Outlook (ADO), konflik di Timur Tengah berpotensi menimbulkan gangguan yang berkelanjutan. Hal ini menciptakan lingkungan global yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian, memengaruhi stabilitas ekonomi.
Albert Park, Kepala Ekonom ADB, menyatakan bahwa konflik yang berlarut-larut di Timur Tengah merupakan ancaman terbesar bagi prospek kawasan. Kondisi ini dapat menyebabkan kenaikan harga energi dan pangan yang signifikan, serta pengetatan kondisi keuangan secara global.
Dampak dari konflik yang meningkat dan berkepanjangan tersebut berpotensi memengaruhi berbagai aktivitas ekonomi. Ini termasuk peningkatan harga komoditas, gangguan pada jalur pengiriman, dan peningkatan volatilitas di pasar keuangan.
Meskipun konsumsi swasta tetap kuat dan permintaan akan barang-barang terkait kecerdasan buatan (AI) tinggi, sebagian besar ekonomi di negara berkembang Asia dan Pasifik diperkirakan akan mengalami penurunan pertumbuhan pada 2026 dan 2027.
Berbeda dengan tren regional, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat. Proyeksi menunjukkan angka 5,2% untuk tahun 2026 dan 2027, lebih tinggi dari perkiraan awal 5,1%. Namun, skenario ini bisa berubah jika konflik di Timur Tengah memburuk.
Di sisi lain, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) diproyeksikan mengalami penurunan pertumbuhan. Angkanya diperkirakan melambat menjadi 4,6% pada 2026 dan 4,5% pada 2027, dari 5% di tahun 2025. Pelemahan pasar properti yang terus-menerus dan ekspansi ekspor yang lebih lambat menjadi faktor utama.
India juga diperkirakan akan melihat perlambatan pertumbuhan ekonominya. Proyeksi menunjukkan penurunan menjadi 6,9% pada tahun ini, dari 7,6% pada tahun sebelumnya.
Sektor perekonomian di Pasifik diprediksi akan mengalami perlambatan paling signifikan. Pertumbuhan diperkirakan menurun dari 4,2% pada 2025 menjadi 3,4% pada 2026, dan kemudian 3,2% pada 2027.
Dalam jangka pendek, harga minyak diproyeksikan akan tetap tinggi. Namun, jika ketegangan geopolitik mereda, harga minyak secara bertahap diperkirakan akan stabil. Lonjakan harga energi baru-baru ini dan potensi gangguan pasokan pupuk akibat konflik Timur Tengah dapat menimbulkan tekanan inflasi pada harga pangan global.