Seorang ahli ornitologi asal Belanda bernama Leo Schilperoord teridentifikasi sebagai pasien nol dalam wabah hantavirus mematikan di sebuah kapal pesiar setelah melakukan perjalanan ke Argentina pada akhir Maret 2026. Penularan diduga terjadi saat korban melakukan aktivitas pengamatan burung di lokasi pembuangan sampah yang menjadi habitat tikus pembawa virus.
Dilansir dari Detik iNET, Leo Schilperoord (70) meninggal dunia di atas kapal MV Hondius pada 11 April 2026 setelah mengalami gejala demam, sakit kepala, dan diare. Istrinya, Mirjam Schilperoord (69), juga mengembuskan napas terakhir keesokan harinya di Afrika Selatan setelah jatuh pingsan saat mencoba melakukan perjalanan pulang menuju Belanda.
Otoritas kesehatan Argentina menduga pasangan tersebut terpapar partikel dari kotoran tikus padi kerdil berekor panjang saat mengunjungi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di luar kota Ushuaia pada 27 Maret 2026. Tikus tersebut dikenal membawa strain Andes dari hantavirus, satu-satunya varian yang dapat menular antarmanusia.
TPA Ushuaia yang dipenuhi sampah sebenarnya dihindari oleh warga lokal, namun lokasi tersebut sering didatangi pengamat burung mancanegara demi melihat spesies langka caracara leher putih. Lokasi ini dilaporkan telah melampaui kapasitas pengelolaan sampah yang ditetapkan pemerintah setempat.
"Sudah menjadi hal yang umum bagi pengamat burung untuk mengunjungi TPA karena ada banyak burung di sana. Ini adalah gunung sampah yang saat ini jauh melebihi batas yang awalnya ditetapkan oleh pihak berwenang," kata Gaston Bretti, fotografer dan pemandu lokal.
Identitas pasangan dari desa Haulerwijk ini terungkap melalui berita duka di majalah bulanan desa mereka yang mencatat dedikasi keduanya terhadap studi burung selama puluhan tahun. Pasangan peneliti ini sebelumnya pernah menulis studi tentang angsa kaki merah muda pada tahun 1984 dan aktif melakukan ekspedisi satwa liar ke berbagai negara.
Leo pertama kali melaporkan gejala sakit pada 6 April 2026, lima hari sebelum ia meninggal di kapal yang mengangkut 112 penumpang. Saat ini, otoritas terkait masih memantau dampak penularan lebih lanjut terhadap kru dan penumpang lain yang berada di kapal pesiar tersebut.