Adopsi kecerdasan buatan (AI) di berbagai perusahaan yang semakin luas berpotensi menciptakan tantangan besar bagi para pekerja pemula atau fresh graduate dalam mencari pekerjaan. CEO perusahaan perangkat lunak ServiceNow, Bill McDermott, menyampaikan kekhawatiran ini.
McDermott memperkirakan bahwa angka pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi baru dapat mencapai pertengahan 30 persen dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya pekerjaan yang akan diotomatisasi oleh sistem berbasis AI.
"Banyak sekali pekerjaan yang akan diselesaikan oleh agen (AI). Jadi, akan menjadi tantangan bagi anak-anak muda untuk membedakan kemampuan mereka di lingkungan perusahaan," kata McDermott, seperti dikutip dari detikINET yang melansir dari CNBC, Rabu (18/3/2026).
Sebelumnya, Bank Sentral AS cabang New York mencatat tingkat pengangguran di Amerika Serikat untuk lulusan perguruan tinggi baru pada akhir tahun 2025 berada di angka 5,7%. Namun, tingkat setengah pengangguran mencapai 42,5%, level tertinggi sejak tahun 2020.
Berbagai pelaku bisnis di lintas industri kini tengah berupaya memangkas biaya dan mengurangi jumlah pekerjaan dengan memanfaatkan perangkat AI. Sebagai contoh, Block mengumumkan rencana pengurangan hampir separuh pegawainya seiring dengan kemampuan AI yang semakin mumpuni dalam mengotomatisasi berbagai tugas. Atlassian, perusahaan perangkat lunak yang nilai sahamnya turun 54% akibat kekhawatiran disrupsi AI, berencana melakukan PHK sekitar 10% tenaga kerjanya untuk mendukung investasi di bidang AI.
Para ahli berpendapat bahwa AI secara bertahap mulai menggerus berbagai jenis pekerjaan kerah putih, termasuk peran dalam bidang pemrograman (coding) dan pemasaran. Hal ini memungkinkan perusahaan mengurangi perekrutan karyawan baru dan meningkatkan produktivitas dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit.
CEO Palantir, Alex Karp, sebelumnya menyatakan keinginannya untuk meningkatkan pendapatan hingga 10 kali lipat sambil mengurangi jumlah karyawan. Sementara itu, CEO Amazon, Andy Jassy, juga mengungkapkan bahwa perusahaannya akan merampingkan tenaga kerja korporat dengan memanfaatkan perangkat AI.
McDermott mengklaim bahwa teknologi ServiceNow dapat membantu dunia usaha memangkas biaya perekrutan. Ia menambahkan bahwa perusahaannya telah mengambil alih 90% fungsi pekerjaan di sektor layanan pelanggan yang sebelumnya bergantung pada manusia.
Teknologi ini juga memungkinkan perusahaan mempertahankan jumlah karyawan tanpa perlu menambah pegawai baru, sekaligus terus meningkatkan pendapatan. "Saya benar-benar berpikir era ini datang lebih cepat dari yang diantisipasi orang-orang," ujarnya.