AI Picu Lonjakan Serangan Siber, Waktu Breakout Menyusut Drastis

Pemanfaatan AI dalam serangan siber mempercepat waktu breakout hingga 29 menit di 2025, meningkat 65% dari tahun sebelumnya.

Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) oleh pelaku kejahatan siber semakin mengkhawatirkan. AI tidak hanya menjadi alat inovasi dalam pertahanan, tetapi juga mempercepat dan memperluas permukaan serangan siber.

CrowdStrike dalam laporan terbarunya, 2026 Global Threat Report, mengungkapkan bahwa rata-rata waktu breakout kejahatan siber (eCrime) telah menyusut drastis menjadi hanya 29 menit pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan kecepatan serangan sebesar 65% dibandingkan tahun 2024. Bahkan, waktu breakout tercepat yang teramati hanya 27 detik.

Adam Meyers, Head of Counter Adversary Operations CrowdStrike, menyoroti bahwa AI telah memperpendek jarak antara perencanaan dan eksekusi serangan. Tim keamanan kini harus bergerak lebih cepat untuk mengamankan sistem.

Laporan tersebut juga mencatat lonjakan aktivitas pelaku ancaman berbasis AI sebesar 89% dari tahun ke tahun. Pelaku kejahatan siber memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi berbagai tahap serangan, termasuk pengintaian, pencurian kredensial, dan penghindaran deteksi.

AI telah menjadi permukaan serangan baru, di mana prompt dianggap sebagai malware baru. Pelaku ancaman mengeksploitasi alat AI generatif dengan menyisipkan prompt berbahaya untuk menghasilkan perintah guna mencuri kredensial dan kripto di lebih dari 90 organisasi.

Kerentanan pada platform pengembangan AI juga dimanfaatkan untuk membangun persistensi dan menyebarkan ransomware, sementara server AI berbahaya disamarkan sebagai layanan tepercaya untuk mencegat data sensitif.

Aktivitas yang terafiliasi dengan China meningkat 38% pada tahun 2025, dengan sektor logistik menjadi target utama (peningkatan hingga 85%). Insiden yang terkait dengan Korea Utara melonjak lebih dari 130%, dengan aktor Famous Chollima memanfaatkan persona yang dihasilkan AI untuk meningkatkan skala operasi orang dalam. Aktor Pressure Chollima bertanggung jawab atas perampokan finansial tunggal terbesar yang pernah dilaporkan, yaitu pencurian kripto senilai USD1,46 miliar.

Selain itu, laporan ini menyoroti tren peningkatan eksploitasi kerentanan zero-day, dengan 42% kerentanan dieksploitasi sebelum pengungkapan publik, serta intrusi yang berfokus pada cloud. Intrusi cloud meningkat 37% secara keseluruhan, termasuk lonjakan 266% dari aktor terafiliasi dengan negara yang menargetkan lingkungan cloud untuk pengumpulan intelijen.

Recommended