Anggaran SOC di APAC Lebih Tinggi dari Rata-Rata Global

Organisasi di Asia Pasifik menganggarkan rata-rata 3,5 juta USD untuk membangun SOC, lebih tinggi 1,5 juta USD dari rata-rata global.

Banyak organisasi berencana membangun Security Operations Center (SOC) untuk memperkuat pertahanan keamanan mereka, namun realisasinya seringkali menghadapi tantangan. Studi Kaspersky menyoroti bahwa pertanyaan utama bukan lagi tentang investasi, melainkan bagaimana membuat SOC benar-benar beroperasi secara efektif.

Meskipun banyak perusahaan berharap dapat meluncurkan SOC dalam setahun dengan anggaran yang terkendali, pengalaman menunjukkan adanya perbedaan signifikan yang dipengaruhi oleh skala, tingkat kematangan, dan prioritas strategis.

Anggaran rata-rata global untuk membangun SOC adalah sekitar 2 juta USD. Sementara di Asia Pasifik (APAC), mayoritas organisasi (93%) merencanakan anggaran di bawah 1 juta USD. Namun, rata-rata anggaran di APAC justru mencapai 3,5 juta USD, 1,5 juta USD lebih tinggi dari rata-rata global.

Investasi yang lebih besar terlihat di negara-negara seperti Vietnam dan Tiongkok, yang sejalan dengan fokus strategis mereka pada kedaulatan digital dan solusi keamanan internal.

Timeline Pembangunan SOC

Sebanyak 69% perusahaan di APAC menargetkan pembangunan SOC selesai dalam 6–12 bulan, sementara 25% lainnya memperkirakan proyek tersebut akan memakan waktu hingga dua tahun. Di Hong Kong dan Taiwan, target waktu serupa juga terlihat, dengan 61% menargetkan 6–12 bulan dan 21% memperkirakan hingga dua tahun.

Hambatan Utama Pembangunan SOC

Penelitian Kaspersky mengungkapkan beragam tantangan dalam membangun SOC. Tantangan utama di APAC adalah evaluasi efektivitas SOC (34%), biaya modal tinggi (33%), dan kompleksitas integrasi sistem (30%).

Keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama. Sebanyak 29% perusahaan menyoroti kurangnya keahlian internal, dan 24% lainnya menyebutkan bahwa pasar tenaga kerja eksternal juga kekurangan talenta. Selain itu, manajemen solusi yang kompleks (29%), kurangnya rencana aksi yang jelas (26%), dan kesulitan dalam membangun proses internal (26%) juga menjadi hambatan.

Di Hong Kong dan Taiwan, tantangan terbesarnya meliputi evaluasi efektivitas SOC (38%), biaya modal besar (35%), keterampilan mengelola solusi yang kompleks (32%), dan kesulitan memetakan proses internal (31%).

Alvin Cheng, General Manager Greater China Region Kaspersky, mengatakan bahwa di lingkungan bisnis Hong Kong yang serba cepat dan terkoneksi, biaya membangun SOC lebih terkait dengan perencanaan strategis daripada angka tetap. "Biaya awal biasanya untuk teknologi dan infrastruktur, namun biaya jangka panjang terutama talenta keamanan siber akan menentukan total investasi," kata Alvin Cheng.

Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, menambahkan bahwa tantangan di APAC bukan hanya soal anggaran atau teknologi, tetapi juga kompleksitas. "Pemimpin bisnis dituntut membuktikan nilai investasi dengan hasil terukur, mengintegrasikan berbagai lapisan keamanan, dan membangun proses yang bisa berkembang. Kesenjangan talenta tetap menjadi hambatan struktural," ujar Adrian Hia.

Kaspersky memberikan beberapa saran untuk membangun dan mengoperasikan SOC yang andal, yaitu:

1. Kaspersky SOC Consulting untuk perencanaan awal dan peningkatan operasi. 2. Kaspersky SIEM dengan kemampuan AI untuk analisis log dan intelijen ancaman. 3. Kaspersky Next product line dengan perlindungan real-time, visibilitas ancaman, serta investigasi berbasis AI (EDR/XDR). 4. Kaspersky Threat Intelligence untuk wawasan mendalam sepanjang siklus manajemen insiden. 5. Kaspersky Managed Detection and Response serta Incident Response bagi perusahaan yang kekurangan personel khusus.

Recommended