APINDO Peringatkan Potensi Henti Produksi Industri Akibat Perang

APINDO melaporkan gangguan rantai pasok bahan baku impor seperti plastik akibat konflik Timur Tengah mengancam keberlangsungan produksi dalam negeri.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) memperingatkan potensi penghentian aktivitas produksi pada sektor industri manufaktur nasional akibat gangguan rantai pasok global. Ancaman ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang menghambat pengiriman bahan baku impor ke Indonesia.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO Bob Azam menyampaikan kekhawatiran tersebut saat menghadiri Rapat Panja RUU Ketenagakerjaan bersama Komisi IX DPR pada Selasa, 14 Juni 2026. Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, ketersediaan bahan baku untuk periode April hingga Mei masih berada dalam kondisi yang tidak pasti.

"Di tengah pelemahan ekonomi, kemudian juga zaman perang Iran, supply chain juga mulai terbatas, ya. Kita enggak tahu nih, April atau Mei kita masih bisa produksi atau enggak," ujar Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO.

Kelangkaan bahan baku plastik menjadi salah satu dampak nyata yang mulai dirasakan pelaku usaha di lapangan. Kondisi ini memicu kenaikan harga komponen yang sangat signifikan sehingga menyulitkan proses operasional perusahaan.

Krisis pasokan plastik ini berdampak langsung pada industri makanan dan minuman karena material tersebut merupakan komponen utama pengemasan produk. Banyak pengusaha telah melaporkan kesulitan mendapatkan stok meskipun permintaan pasar tetap berjalan.

Tekanan ekonomi ini dikhawatirkan dapat berdampak buruk pada stabilitas tenaga kerja di sektor-sektor terdampak. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, APINDO meminta pemerintah melakukan langkah debirokratisasi guna mempermudah perizinan impor bahan baku.

Pemerintah diharapkan lebih fleksibel dalam mengatur birokrasi perdagangan internasional demi menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Sinergi antara pengusaha, pemerintah, dan pekerja dinilai krusial untuk menghadapi tantangan kenaikan biaya operasional dan menjaga produktivitas nasional.

Recommended