Tekanan jual investor asing kembali mendominasi pasar saham domestik. Pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, arus dana asing keluar besar-besaran dari Bursa Efek Indonesia. Saham berkapitalisasi jumbo menjadi sasaran utama, seiring anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga memicu trading halt.
Berdasarkan data perdagangan, total aksi jual bersih atau net foreign sell investor asing mencapai sekitar Rp 6,17 triliun. Nilai transaksi jual tercatat jauh lebih besar dibandingkan pembelian. Asing membukukan beli senilai Rp 14,76 triliun, sementara penjualan menembus Rp 20,93 triliun. Tekanan ini terasa kuat, terutama pada saham-saham perbankan besar, termasuk bmri yang ikut mencatat arus keluar dana signifikan.
Saham Perbankan Jadi Sasaran Utama Aksi Jual
Sektor perbankan kembali menjadi pusat tekanan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin daftar dengan nilai net foreign sell paling jumbo. Dana asing keluar dari saham ini mencapai sekitar Rp 4,15 triliun hanya dalam satu hari perdagangan.
Besarnya aksi jual tersebut membuat harga BBCA tertekan hingga menyentuh level terendah sejak pertengahan 2022. Kondisi ini menunjukkan kehati-hatian investor global terhadap aset berisiko di pasar domestik, terlebih di tengah sentimen global dan regional yang kurang kondusif.
Tidak hanya BBCA, saham bank pelat merah juga tak luput dari tekanan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI mencatat net foreign sell sekitar Rp 1,28 triliun. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dilepas asing hingga Rp 1,14 triliun.
Arus keluar dana dari saham perbankan besar ini menandakan bahwa investor asing memilih mengurangi eksposur pada saham likuid dan berkapitalisasi besar untuk sementara waktu.
Tekanan Menyebar ke Sektor Nonbank
Aksi jual asing tidak hanya terfokus pada sektor perbankan. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga masuk dalam daftar saham yang paling banyak dilepas. Nilai net foreign sell TLKM tercatat sekitar Rp 564,5 miliar.
Dari sektor tambang dan komoditas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turut mengalami tekanan dengan aksi jual bersih asing sebesar Rp 314,3 miliar. Saham tambang mineral lainnya seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Timah Tbk (TINS) juga mencatat arus keluar dana, meski dengan nilai yang lebih kecil.
Tekanan ini menunjukkan bahwa sentimen negatif tidak hanya bersifat sektoral, melainkan menyebar ke berbagai lini industri di pasar saham.
Daftar 10 Saham dengan Net Foreign Sell Terbesar
Berikut daftar saham dengan aksi jual bersih asing terbesar pada perdagangan kemarin:
-
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – Rp 4,15 triliun
-
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) – Rp 1,28 triliun
-
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) – Rp 1,14 triliun
-
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) – Rp 564,5 miliar
-
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) – Rp 314,3 miliar
-
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) – Rp 108,5 miliar
-
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) – Rp 94,4 miliar
-
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) – Rp 93,6 miliar
-
PT Timah Tbk (TINS) – Rp 69,3 miliar
-
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) – Rp 60,4 miliar
Data ini mempertegas bahwa saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid menjadi pilihan utama investor asing saat melakukan penyesuaian portofolio.
IHSG Anjlok dan Sempat Trading Halt
Tekanan jual masif tersebut berdampak langsung pada pergerakan IHSG. Indeks ditutup anjlok 7,35 persen ke level 8.320,56. Dalam satu hari, IHSG terkoreksi sekitar 659,67 poin.
Bahkan, pada sesi perdagangan intraday, IHSG sempat jatuh lebih dari 8 persen. Kondisi ini memaksa otoritas Bursa Efek Indonesia melakukan penghentian perdagangan sementara atau trading halt sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Nyaris seluruh saham aktif diperdagangkan berada di zona merah. Tercatat 753 saham melemah, hanya 37 saham yang menguat, sementara 16 saham stagnan.
Sentimen MSCI Jadi Pemicu Tekanan Pasar
Tekanan hebat di pasar saham domestik tak lepas dari sentimen eksternal. Salah satu pemicu utama datang dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga penyedia indeks global tersebut menyatakan akan membekukan proses rebalancing indeks saham Indonesia pada Februari 2026.
Keputusan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi aliran dana asing ke depan. Investor global cenderung bersikap defensif dan memilih mengurangi posisi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Nilai Transaksi Tembus Puluhan Triliun
Di tengah tekanan pasar, aktivitas perdagangan justru mencatat nilai transaksi jumbo. Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp 45,50 triliun. Volume perdagangan tercatat 60,86 miliar saham dengan frekuensi sekitar 3,99 juta kali transaksi.
Tingginya nilai transaksi ini mencerminkan dinamika pasar yang sangat aktif. Banyak investor melakukan penyesuaian portofolio, baik untuk mengurangi risiko maupun memanfaatkan volatilitas jangka pendek.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati respons otoritas, stabilitas sentimen global, serta arah kebijakan investor institusi. Pergerakan saham-saham besar, termasuk bmri, masih akan menjadi perhatian utama dalam beberapa hari perdagangan berikutnya.