Laba Bersih Bukit Asam (PTBA) Turun 43% di Tahun 2025

PTBA melaporkan penurunan laba bersih 43% menjadi Rp2,92 triliun pada 2025, meskipun pendapatan usaha relatif stabil di Rp42,65 triliun.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA), salah satu emiten pertambangan batu bara, mencatat penurunan laba bersih yang signifikan pada tahun buku 2025. Kondisi ini terjadi di tengah pendapatan perseroan yang cenderung stagnan. Kinerja keuangan tersebut terungkap dari data terbaru yang dirilis.

Keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), sebagaimana dikutip dari Medcom, menunjukkan bahwa PTBA membukukan Pendapatan Usaha sebesar Rp42,65 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan capaian Rp42,76 triliun pada tahun 2024.

Meskipun harga acuan batu bara global seperti Newcastle Index dan ICI-3 melemah, perusahaan berhasil mempertahankan stabilitas pendapatan. PTBA juga tetap mencatatkan profitabilitas yang positif dalam periode tersebut.

Kenaikan volume penjualan sebesar 6% secara tahunan belum mampu sepenuhnya mengimbangi penurunan harga jual rata-rata. Hal ini disebabkan oleh tekanan harga batu bara di pasar global.

Kontributor utama penjualan PTBA adalah pasar domestik dengan porsi 54%. Sementara itu, ekspor menyumbang 46% dari total penjualan. Beberapa negara di Asia, termasuk Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina, menjadi tujuan utama ekspor batu bara perseroan.

Tantangan utama yang dihadapi PTBA terlihat pada sisi pengeluaran. Beban Pokok Pendapatan perusahaan mengalami kenaikan sebesar 5%, dari Rp34,56 triliun menjadi Rp36,39 triliun. Kenaikan ini berdampak langsung pada Laba Kotor yang terkoreksi 24% menjadi Rp6,25 triliun.

Penurunan lebih dalam terlihat pada Laba Usaha, yang terkoreksi hingga 43% menjadi Rp3,20 triliun. Padahal, pada tahun buku sebelumnya (2024), perseroan masih mencatatkan laba usaha sebesar Rp5,65 triliun.

Dampak dari kenaikan beban dan penurunan laba operasional juga menekan laba bersih PTBA. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp2,92 triliun pada akhir tahun 2025. Angka ini turun 43% dibandingkan perolehan Rp5,10 triliun pada tahun 2024.

Indikator profitabilitas lainnya, seperti EBITDA, turut menunjukkan tren penurunan. EBITDA PTBA tercatat turun 27% menjadi Rp6,08 triliun. Penurunan laba bersih ini secara otomatis menekan Laba per Saham (EPS) perusahaan.

Pada tahun 2024, nilai EPS berada di angka Rp444 per lembar saham. Namun, untuk tahun buku 2025, nilai EPS turun menjadi Rp254 per lembar saham. Kondisi ini mencerminkan tantangan pasar yang dihadapi perseroan.

Menyongsong tahun 2026, PTBA telah menetapkan target produksi sebesar 49,55 juta ton dan target penjualan 49,51 juta ton. Target volume angkutan batu bara perusahaan direncanakan mencapai 41 juta ton, dengan tingkat stripping ratio yang lebih efisien, yaitu 5,63x.

Belanja modal yang direncanakan untuk tahun 2026 adalah sebesar Rp3,64 triliun. Angka ini lebih rendah dibanding realisasi pada tahun 2025, mengindikasikan bahwa perusahaan berfokus pada optimalisasi aset yang sudah ada.

Manajemen PTBA menegaskan bahwa strategi cost leadership akan tetap menjadi pilar utama operasional. Melalui pendekatan efisiensi yang konsisten dan strategi pemasaran yang adaptif, PTBA berharap dapat memanfaatkan potensi pemulihan harga batu bara di pasar global, sekaligus memperluas portofolio ke arah bisnis yang lebih berkelanjutan.

Recommended