Astronom Petakan Supergugus Galaksi Vela Berukuran 300 Juta Tahun Cahaya

Tim astronom berhasil memetakan Supergugus Vela, struktur masif yang tersembunyi di balik Bima Sakti dengan massa setara 30 kuadriliun Matahari.

Tim astronom internasional berhasil memetakan struktur masif Supergugus Vela yang selama satu dekade tersembunyi di balik debu Bima Sakti pada Senin (27/4/2026). Objek luar angkasa ini dipastikan menjadi salah satu struktur paling masif di alam semesta yang pernah teridentifikasi manusia.

Struktur kosmik raksasa ini terdiri dari sedikitnya 20 gugus galaksi yang masing-masing menampung ribuan galaksi di dalamnya. Berdasarkan data yang dilansir dari Detik iNET, seluruh komponen tersebut terikat secara gravitasi menjadi satu kesatuan struktur tunggal di ruang angkasa.

Hasil pemetaan terbaru menunjukkan bahwa Supergugus Vela membentang sepanjang 300 juta tahun cahaya, atau sekitar 3.000 kali lebih lebar dibandingkan galaksi Bima Sakti. Peneliti mengestimasi total massa struktur ini setara dengan 30 kuadriliun massa Matahari.

Lokasi supergugus ini berada sekitar 800 juta tahun cahaya dari Bumi, tepatnya di wilayah yang dikenal sebagai Zone of Avoidance atau Zona Penghindaran. Area ini sangat sulit diamati karena tertutup oleh piringan tebal bintang, gas, dan debu dari galaksi kita sendiri.

Peneliti menggunakan metode pengukuran pergerakan galaksi di sekitar tepian kawanan tersebut untuk menentukan ukuran aslinya. Data menunjukkan sebagian besar massa terdistribusi ke dalam dua inti utama yang saat ini sedang bergerak saling mendekat.

Secara peringkat, tingkat masif Supergugus Vela kini melampaui Laniakea, yakni supergugus yang menampung Bumi. Posisi ukurannya saat ini berada di peringkat kedua tepat di bawah Supergugus Shapley yang memegang predikat struktur galaksi terbesar.

Para ahli memberikan nama baru Vela-Banzi yang dalam bahasa Xhosa berarti mengungkap secara luas. Nama ini merujuk pada lokasi sebagian besar teleskop penelitian yang berada di Afrika Selatan.

"Jutaan/miliaran bintang yang membentuk piringan tersebut sangat padat dan sangat dekat dengan bidang galaksi sehingga kita tak dapat dengan mudah menembusnya," ujar Renee Kraan-Korteweg, astronom di Universitas Cape Town.

Zona Penghindaran selama ini menutupi hingga 20 persen langit malam yang terlihat dari Bumi. Keberhasilan pemetaan ini mengakhiri teka-teki mengenai ukuran asli struktur yang sebelumnya hanya dijuluki sebagai Terra incognita atau tanah tak dikenal.

Recommended