Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah intervensi pasar setelah nilai tukar rupiah terpantau melemah hingga melewati level Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/4/2026) pagi. Tekanan terhadap mata uang garuda ini dipicu oleh eskalasi ketidakpastian global serta dampak konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung.
Data Bloomberg menunjukkan dolar AS sempat menguat 0,70 persen ke level Rp 17.302 pada pukul 10.15 WIB, setelah sebelumnya menyentuh titik Rp 17.310 sekitar pukul 09.35 WIB. Meski sempat fluktuatif di kisaran Rp 17.200, penguatan mata uang Paman Sam tetap dominan di pasar spot domestik.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa koreksi nilai tukar ini sejalan dengan tren pelemahan yang dialami oleh mata uang di kawasan regional lainnya. Dilansir dari Detik Finance, rupiah mencatatkan pelemahan tahun berjalan (year-to-date) sebesar 3,54 persen akibat tekanan faktor eksternal tersebut.
"BI senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI dalam keterangan tertulisnya. Otoritas moneter berkomitmen untuk memastikan ketersediaan likuiditas dan menjaga daya tarik aset domestik.
Strategi stabilisasi dilakukan melalui intervensi berlapis pada pasar domestik nondeliverable forward (DNDF), pasar spot, serta pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, BI juga aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder serta mengoptimalkan instrumen moneter yang pro-market.
Kondisi ketahanan eksternal Indonesia diklaim masih dalam posisi aman dengan cadangan devisa mencapai US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026. Posisi cadangan ini dinilai cukup kuat untuk mendukung langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan bank sentral dalam menghadapi volatilitas global yang berkepanjangan.
BI memastikan akan terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik guna menyesuaikan kebijakan moneter yang diperlukan. Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik yang mempengaruhi sentimen investor terhadap aset-aset di negara berkembang.