Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada Rabu (22/4/2026) guna merespons tekanan nilai tukar rupiah dan tingginya ketidakpastian pasar global. Langkah ini diambil sebagai bentuk kebijakan yang mengutamakan stabilitas mata uang di tengah fluktuasi ekonomi eksternal.
Penetapan kebijakan moneter tersebut, sebagaimana dilansir dari Medcom, dianggap konsisten dengan upaya otoritas moneter dalam meredam volatilitas nilai tukar. Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa menyebutkan bahwa fokus utama saat ini adalah menjaga kestabilan rupiah dibandingkan melakukan pelonggaran kebijakan.
Hingga pertengahan April 2026, nilai tukar rupiah tercatat melemah sekitar 0,8 persen secara month-to-date ke posisi Rp17.140 per dolar AS. Performa tersebut menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan Asia akibat sentimen geopolitik dan harga energi.
"Bank Indonesia terlihat menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama. Sikap ini menunjukkan ruang penurunan suku bunga menjadi sangat terbatas selama tekanan terhadap rupiah masih bertahan," ujar Jessica Tasijawa, Analis Mirae Asset Sekuritas.
Kondisi ekonomi domestik juga menghadapi tantangan risiko struktural berupa potensi pelebaran defisit transaksi berjalan di kisaran 0,4 hingga 0,7 persen terhadap PDB. Selain itu, defisit anggaran fiskal diproyeksikan meningkat hingga 2,95 persen dari PDB akibat beban subsidi energi.
Analisis dari Mirae Asset Sekuritas menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen berisiko memperlebar defisit fiskal antara 0,02 hingga 0,07 persen. Indonesia sebagai importir minyak neto terancam mengalami penyusutan surplus perdagangan jika harga energi global terus melonjak.
Tekanan pada cadangan devisa turut terlihat dari penurunan angka menjadi USD148,2 miliar pada Maret 2026 dari posisi USD156 miliar pada akhir tahun sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan intensitas intervensi yang dilakukan bank sentral di pasar valuta asing dan obligasi untuk menopang arus modal masuk.
Bank Indonesia saat ini tetap mengandalkan bauran kebijakan stabilisasi, termasuk pengelolaan imbal hasil obligasi tenor pendek yang cenderung naik. Fokus kebijakan akan terus diarahkan pada ketahanan eksternal selama nilai tukar rupiah masih berada di atas level Rp17.000 per dolar AS.