Bank Muamalat Catat Kenaikan Laba dan Pembiayaan hingga Rp18,5 Triliun

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk membukukan pertumbuhan laba sebelum pajak 47,5% dan total pembiayaan Rp18,5 triliun per Desember 2025.

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk berhasil membukukan pertumbuhan kinerja yang signifikan sepanjang tahun 2025. Laba sebelum pajak (profit before tax) tercatat naik 47,5% secara tahunan (yoy), menunjukkan penguatan fundamental keuangan bank syariah pertama di Indonesia ini.

Berdasarkan laporan keuangan yang diaudit per 31 Desember 2025, laba sebelum pajak Bank Muamalat mencapai Rp30,1 miliar. Pencapaian ini, seperti dilansir dari Medcom, menandai hasil positif dari strategi konsolidasi bisnis yang telah dijalankan.

Direktur Utama Bank Muamalat, Imam Teguh Saptono, mengungkapkan bahwa total pembiayaan bank tersebut mencapai Rp18,5 triliun pada akhir Desember 2025. Angka ini merefleksikan peningkatan sebesar 10,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan pembiayaan bagi hasil mudharabah menjadi salah satu pendorong utama, melonjak 42,9% yoy dari Rp379,9 miliar di Desember 2024 menjadi Rp543,1 miliar.

Bank Muamalat juga mencatat kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang solid, mencapai Rp45,5 triliun hingga akhir 2025, meningkat 9,0% yoy. Sementara itu, total aset bank ikut tumbuh 3,8% yoy, menembus angka Rp62,3 triliun pada periode yang sama.

Imam menyatakan, "Alhamdulillah, konsolidasi bisnis yang kami lakukan telah menunjukkan hasil positif. Sejumlah indikator utama sepanjang 2025 berhasil kami jaga untuk tumbuh positif, di antaranya aset, pembiayaan, dan DPK."

Di sisi permodalan, Bank Muamalat menunjukkan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang kuat sebesar 26,37% per Desember 2025. Angka ini jauh melampaui batas minimum yang ditetapkan oleh regulator.

Menurut Imam, Bank Muamalat semakin mengarahkan fokusnya pada segmen ritel konsumer. Produk unggulan seperti pembiayaan Solusi Emas Hijrah dan UMKM mencatat kenaikan signifikan. Pembiayaan emas, misalnya, melonjak 33 kali lipat yoy dengan pertumbuhan mencapai Rp1,1 triliun. Peningkatan jumlah rekening nasabah juga mencapai lebih dari 1.200 persen.

"Kenaikan yang signifikan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap produk Solusi Emas Hijrah. Dengan tren yang positif ini, kami optimistis pencapaiannya akan terus berlanjut di 2026 seiring masih besarnya minat dan literasi masyarakat terhadap investasi emas," tutur Imam.

Untuk meningkatkan pengalaman nasabah, Bank Muamalat terus mengoptimalkan jaringan kantornya. Per 31 Desember 2025, bank ini memiliki 80 Kantor Cabang Utama, termasuk satu di Kuala Lumpur, Malaysia, dan 144 Kantor Cabang Pembantu.

Selain layanan tatap muka, kanal digital juga menjadi tulang punggung strategi Bank Muamalat. Berbagai layanan dan informasi perbankan syariah tersedia melalui mobile banking Muamalat DIN, internet banking, sistem manajemen kas Madina, serta jaringan ATM yang tersebar luas.

Jumlah pengguna Muamalat DIN telah melampaui 600 ribu per Desember 2025, tumbuh lebih dari 6% yoy, dengan jumlah transaksi meningkat lebih dari 11% yoy. Kombinasi layanan fisik dan digital ini diharapkan dapat memenuhi beragam kebutuhan transaksi nasabah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional berbasis syariah.

Orientasi Kinerja Berbasis Maqasid Syariah

Imam menambahkan, secara bertahap Bank Muamalat mulai mengarahkan kinerja yang tidak hanya berlandaskan indikator finansial, tetapi juga pada Key Performance Indicator (KPI) berbasis maqasid syariah. Implementasinya meliputi integrasi layanan zakat, infaq, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) dalam aplikasi Muamalat DIN.

“Ke depan, Bank Muamalat memposisikan diri sebagai bank syariah yang fokus pada ekosistem haji, umrah, dan ZISWAF, dengan harapan dapat memberikan kontribusi ekonomi nyata bagi penguatan ekonomi umat,” tutup Imam.

Recommended