PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatatkan perolehan laba bersih sebesar US$ 190,7 juta atau setara Rp 3,3 triliun pada kuartal I-2026 yang berakhir Kamis (30/4/2026). Perolehan tersebut menunjukkan tren penurunan kinerja keuangan emiten tambang milik Low Tuck Kwong dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dilansir dari Detik Finance, laba bersih tersebut mengalami penyusutan sebesar 12,4 persen. Pada periode yang sama di tahun sebelumnya, BYAN mampu mengantongi laba mencapai US$ 217,9 juta atau sekitar Rp 3,7 triliun.
Koreksi pada laba bersih ini sejalan dengan turunnya pendapatan bersih perseroan yang tercatat sebesar US$ 821,6 juta atau setara Rp 14,2 triliun. Angka pendapatan tersebut terkontraksi 7,6 persen dari posisi US$ 890,1 juta atau Rp 15,4 triliun pada kuartal pertama tahun sebelumnya.
Di tengah penurunan pendapatan, manajemen BYAN berhasil melakukan efisiensi dengan menekan beban pokok pendapatan menjadi US$ 554,5 juta atau sekitar Rp 9,6 triliun. Realisasi beban pokok ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang menyentuh angka US$ 574,9 juta.
Penurunan kinerja operasional ini berdampak pada laba bruto perseroan yang terkumpul sebanyak US$ 267,06 juta atau setara Rp 4,63 triliun. Secara persentase, laba kotor tersebut melandai 15,2 persen dari capaian kuartal I-2025 yang tercatat sebesar US$ 315,2 juta.
Hingga akhir Maret 2026, total aset yang dimiliki oleh Bayan Resources tercatat berada di level US$ 3,5 miliar. Sementara itu, total liabilitas perseroan dilaporkan sebesar US$ 617,2 juta dengan posisi ekuitas mencapai US$ 2,8 miliar.