Sebuah fitur gelap misterius di kawasan Utopia Planitia, Mars, terpantau merayap dan meluas melintasi permukaan Planet Merah setidaknya sejauh 320 kilometer ke arah selatan pada Rabu, 15 April 2026. Data terbaru yang dirilis Badan Antariksa Eropa (ESA) mengungkapkan pergerakan ini terjadi dalam rentang waktu lima dekade terakhir.
Struktur berbayang tersebut merupakan area tanah yang tertutup oleh batuan vulkanik dan abu dari letusan purba jutaan tahun lalu. Sebagaimana dilansir dari Detik iNET, fitur ini menunjukkan tingkat perluasan rata-rata sekitar 6,5 kilometer per tahun berdasarkan analisis citra satelit terbaru.
Wahana penjelajah Viking milik NASA pertama kali mengabadikan daratan hitam ini pada tahun 1976. Rekaman terbaru dari wahana Mars Express milik ESA di tahun 2024 menunjukkan bahwa batas selatan wilayah tersebut telah bergeser secara signifikan dibandingkan posisi awalnya.
Para ilmuwan meyakini bahwa fenomena meluasnya bercak gelap ini berkaitan erat dengan aktivitas angin Mars yang sangat dinamis. Angin tersebut diduga berperan dalam memindahkan material debu dan abu di permukaan planet secara konsisten.
"Penyebaran abu selama 50 tahun terakhir ini memiliki dua kemungkinan penjelasan: entah abu tersebut terangkat dan terpindahkan oleh angin Mars, atau debu merah yang sebelumnya menutupi abu gelap itu telah tertiup angin," ujar perwakilan ESA.
Utopia Planitia yang menjadi lokasi fenomena ini merupakan dataran luas di belahan utara Mars dengan diameter mencapai 3.300 kilometer. Wilayah ini telah menjadi pusat perhatian penelitian internasional karena sejarah geologinya yang kompleks, termasuk keberadaan retakan tanah raksasa atau graben.
Selain misi Viking, wahana Zhurong asal China juga sempat menjelajahi area ini pada periode 2021 hingga 2023. Data dari misi tersebut mengindikasikan bahwa wilayah Utopia Planitia kemungkinan besar pernah tertutup oleh lautan luas pada masa lampau.
Peneliti saat ini terus memantau pergerakan fitur gelap tersebut untuk memahami lebih lanjut mengenai siklus iklim Mars. Terdapat pula dugaan kuat mengenai kandungan es dalam jumlah besar yang terkubur di bawah permukaan wilayah tersebut, yang berpotensi menjadi kunci pencarian jejak kehidupan.