Nilai tukar rupiah mengalami tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga sempat menyentuh level Rp17.300 pada Jumat, 24 Juni 2026. Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh eskalasi konflik antara AS dan Iran yang mengganggu stabilitas ekonomi global.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Juli Budi Winantya, menjelaskan bahwa pelaku pasar mengantisipasi peperangan tersebut akan berlangsung dalam waktu lama. Kondisi ini secara langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dan pangan dunia akibat gangguan pada rantai produksi serta distribusi.
Dilansir dari Detik Finance, gangguan distribusi tersebut menyebabkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia terpangkas dari 3,1 persen menjadi 3 persen. Sebaliknya, angka inflasi global justru diprediksi meningkat menjadi 4,2 persen dari perkiraan awal sebesar 4,1 persen.
"Kondisi ekonomi global banyak diwarnai perang. Banyak pihak, pelaku pasar memperkirakan perang lebih lama, yang sudah kita lihat dampaknya kenaikan harga minyak karena gangguan produksi dan distribusi," kata Juli Budi Winantya, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia.
Bank Indonesia mencatat tingginya imbal hasil (yield) obligasi AS turut memperburuk situasi karena memicu pelarian modal dari negara berkembang ke Negeri Paman Sam. Hal ini terjadi seiring dengan membengkaknya defisit fiskal AS akibat besarnya belanja militer yang dikeluarkan pemerintah setempat.
Terkait kondisi domestik, BI melaporkan posisi cadangan devisa pada Maret 2026 berada di level US$ 148,2 miliar. Angka tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan posisi akhir Februari 2026 yang tercatat sebesar US$ 151,9 miliar.
BI tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen sepanjang tahun 2026. Target ini didukung oleh berbagai stimulus fiskal, kebijakan moneter, serta bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar di pasar valas.
Otoritas moneter saat ini terus meningkatkan intensitas intervensi baik di pasar spot maupun domestik non-deliverable forward (DNDF). Langkah tersebut diambil sebagai komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah apresiasi dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia.