BGN Salurkan Rp 500 Juta ke Dapur MBG Setiap 12 Hari

Badan Gizi Nasional menyalurkan dana Rp 500 juta setiap 12 hari ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program MBG.

Badan Gizi Nasional (BGN) mengalokasikan dana sebesar Rp 500 juta setiap 12 hari kepada setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Dana ini digunakan untuk melaksanakan program makan bergizi gratis (MBG).

Penyaluran anggaran negara yang langsung menyentuh tingkat bawah tanpa melalui pemerintah daerah merupakan pola baru yang diterapkan oleh BGN.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa dari total anggaran Rp 268 triliun, sekitar Rp 240 triliun langsung beredar di daerah, dari Sabang sampai Merauke. Dana ini disalurkan ke SPPG di seluruh Indonesia tanpa perantara pemerintah daerah.

"BGN hadir menghadirkan pola baru, di mana 93% dana BGN itu disalurkan langsung ke SPPG-SPPG. Jadi, kalau ada dana Rp 268 triliun, kurang lebih Rp 240 triliun uang beredar dari Sabang sampai Merauke, dan setiap per 12 hari SPPG menerima sekitar Rp 500 juta. Saya kira ini adalah model baru, tidak ada satu rupiah pun uang yang disalurkan dari pusat ke daerah (pemda)," ujar Dadan dalam keterangan tertulis, Jumat (27/2/2026).

Hingga saat ini, dana yang telah beredar dari Sabang sampai Merauke mencapai sekitar Rp 36 triliun. Perputaran dana ini menjadi penggerak ekonomi yang mendorong pemerataan di seluruh wilayah Indonesia.

Jumlah SPPG yang beroperasi di suatu daerah menentukan besaran dana yang beredar. Semakin banyak SPPG, semakin besar pula dana yang masuk ke wilayah tersebut, kata Dadan.

Kebijakan ini juga berdampak pada sektor produksi lokal. Produk-produk lokal dijamin penyerapannya oleh BGN dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menciptakan kepastian pasar bagi petani dan pelaku usaha daerah.

"Belum pernah terjadi dalam era mana pun, produksi lokal dijamin penyerapannya oleh negara seperti sekarang. Tidak heran jika ada petani wortel di Nusa Tenggara Timur yang senang karena harga wortelnya bisa naik hingga tiga kali lipat," jelasnya.

Kenaikan serapan hasil produksi berdampak pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP). Rata-rata NTP saat ini mencapai 125, meningkat dari sebelumnya sekitar 102. Menurut Dadan, capaian ini memberikan ruang bagi petani untuk berinvestasi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

"Saya yakin dengan program MBG ini, Nilai Tukar Petani akan bisa naik hingga 150," tambahnya.

Dadan menambahkan bahwa perputaran uang dalam jumlah besar pada awal tahun ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagai perbandingan, stimulus ekonomi pemerintah tahun lalu sebesar Rp 37 triliun pada triwulan pertama mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 4,7%.

Pada tahun ini, hingga Maret, peredaran dana BGN diprediksi mencapai Rp 62 triliun. Dadan menilai hal ini menjadi stimulus ekonomi yang signifikan.

"Banyak pelaku usaha melaporkan bahwa likuiditas di lapangan kini lebih mudah ditemukan karena perputaran uang yang masif dan merata," tambah Dadan.

Recommended