Harga Bitcoin mengalami penurunan hingga mencapai US$ 70.000, setara dengan Rp 1,18 miliar (dengan kurs Rp 16.928 per dolar AS). Penurunan ini dipicu oleh hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang mengisyaratkan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang masih cenderung ketat.
Sebelumnya, nilai Bitcoin sempat menguat hingga mendekati US$ 76.000 atau Rp 1,28 miliar pada perdagangan Selasa (17/3) lalu. Kenaikan ini didorong oleh arus dana institusional yang masuk ke spot Bitcoin ETF sebesar US$ 199,37 juta hingga sesi ketujuh berturut-turut, dengan total arus masuk selama tujuh hari mencapai US$ 1,16 miliar.
Vice President INDODAX, Antony Kusuma, mengatakan bahwa minat investor besar masih terjaga meskipun pasar mengalami volatilitas. Namun, setelah pertemuan FOMC, investor melakukan penyesuaian yang tercermin dari koreksi sekitar 7-8%.
Keputusan FOMC yang mempertahankan suku bunga acuan serta revisi naik proyeksi inflasi menunjukkan arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish. Pasar menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun secepat yang diharapkan, sehingga likuiditas ke aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas.
Menurut Antony, pergerakan ini juga dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, termasuk revisi kenaikan inflasi AS menjadi sekitar 2,7% serta suku bunga yang bertahan di kisaran 3,50%-3,75%.
Gubernur The Federal Reserve (Bank Sentral AS) Jerome Powell menyampaikan bahwa penurunan suku bunga di AS akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi, yang membatasi minat investasi pada aset digital.
Antony berpendapat bahwa pergerakan aset kripto Bitcoin saat ini berada di kisaran US$ 70.000, dengan area US$ 70.000-72.000 menjadi level support penting yang dicermati oleh investor.
"Selama level ini mampu bertahan, pergerakan harga berpotensi tetap stabil dalam jangka pendek, didukung oleh arus masuk dana institusional yang membantu menyerap tekanan jual. Namun jika harga melewati level support ini, penyesuaian harga berpotensi berlanjut ke level yang lebih rendah," jelasnya.
Antony menambahkan, sentimen pasar saat ini cenderung dipengaruhi oleh faktor makroekonomi. Fase koreksi dan konsolidasi dapat dimanfaatkan investor untuk menata kembali strategi investasi dengan manajemen risiko yang tepat dan fokus jangka panjang.
INDODAX menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan ekosistem perdagangan aset kripto yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh seluruh member. INDODAX juga aktif mendorong literasi dan edukasi masyarakat melalui INDODAX Academy, agar pengguna memahami risiko investasi dan pentingnya riset mandiri (DYOR).
"Selain itu, penerapan strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu investor menghadapi volatilitas pasar dengan lebih disiplin, Lewat edukasi yang berkelanjutan, INDODAX mengajak masyarakat untuk tetap rasional, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang dalam menyikapi peluang di pasar kripto," pungkas Antony.