BPH Migas Pastikan Pasokan BBM Aman di Tengah Konflik Timur Tengah

BPH Migas memastikan pasokan BBM aman meski ada konflik Timur Tengah. Pemerintah menyiapkan mitigasi impor dari negara non-konflik.

Badan Pengatur Hilir (BPH) Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menjamin ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) tetap stabil di tengah ketegangan di Timur Tengah. Pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menutupi potensi kekurangan pasokan BBM.

Fathul Nugroho, Anggota Komite BPH Migas, menyatakan bahwa isu penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak perlu dikhawatirkan oleh Indonesia.

"Sekarang sekitar 19% impor minyak mentah Indonesia berasal dari Saudi Arabia (Timur Tengah), Kendati demikian, pemerintah sudah menyiapkan langkah preventif dengan mengimpor minyak dari negara yang tidak terdampak konflik," ujar Fathul dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/3/2026).

Fathul menjelaskan lebih lanjut bahwa sebagian besar impor minyak mentah Indonesia berasal dari negara-negara yang tidak terlibat konflik. Sejak April 2025 hingga Maret 2026, Indonesia mengimpor 34,07 juta barel dari Nigeria, yang mencakup 25% dari total volume impor.

Selain itu, Indonesia juga mengimpor 28,50 juta barel minyak mentah dari Angola, setara dengan 21% dari total impor, serta 47,40 juta barel dari negara-negara lain, yang mencakup sekitar 35% dari total impor.

"Artinya kita lebih banyak mengimpor dari negara yang tidak terlibat konflik. Artinya pasokan BBM Indonesia tetap aman," ujarnya.

Impor minyak mentah dari Arab Saudi hanya mencapai 28,50 juta barel atau sekitar 19%.

Fathul juga mengimbau masyarakat untuk tidak salah menafsirkan informasi mengenai cadangan BBM nasional yang disebut hanya cukup untuk 20 hari ke depan.

Menurutnya, angka tersebut mencerminkan keterbatasan kapasitas penyimpanan yang dimiliki oleh Pertamina. Dengan demikian, ketersediaan BBM di storage Pertamina tidak secara langsung mencerminkan sedikitnya pasokan BBM di Indonesia.

Kapasitas penyimpanan BBM nasional saat ini adalah 6,10 juta KL (67%) untuk Pertamina dan 3,06 juta KL (33%) untuk non-Pertamina.

"Hingga saat ini, cadangan operasional BBM Indonesia tergolong aman hingga setelah momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026," pungkasnya.

Recommended