Perdagangan Senin (9/3/2026) diwarnai dengan pelemahan kompak pada indeks bursa saham Asia. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Nikkei 225 Index (N225) mencatat koreksi terdalam di antara bursa saham Asia lainnya. Data perdagangan RTI Business pukul 10.00 WIB menunjukkan indeks saham Tokyo tersebut merosot 6,98% ke level 51.740,50.
Selain itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penurunan sebesar 3,45% dan berada pada level 7.323,95. Sementara itu, Straits Times Index (STI) atau indeks saham Singapura juga tercatat melemah sebesar 2,54% ke level 4.725,02.
Hang Seng Index (HSI) di Hong Kong ikut melemah sebesar 2,49% ke level 25.116,98. Bursa Shanghai Composite Index (SSEC) juga mengalami penurunan, tercatat sebesar 1,02% ke level 4.082,22.
Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, menjelaskan bahwa koreksi yang terjadi di bursa Asia dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah dan dampak dari penutupan Selat Hormuz. Harga minyak mentah saat ini berada di atas US$ 100 per barel.
Herditya menambahkan, "Koreksi dari IHSG ini sejalan dengan pergerakan bursa global dan regional Asia yang terkoreksi, di mana kami memperkirakan dengan adanya eskalasi konflik di Timur Tengah dan dampak dari penutupan Selat Hormuz masih menjadi sentimen," ujarnya kepada detikcom, Senin (9/3/2025).
Kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketegangan global mendorong efek risk-off di pasar global. Akibatnya, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa mengungkapkan, "Geopolitik di Timur Tengah masih memberi efek risk-off di pasar global karena memicu kenaikan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham di emerging markets."