Para ilmuwan mengonfirmasi bahwa burung modern yang hidup saat ini merupakan keturunan langsung dari dinosaurus kelompok theropoda berdasarkan bukti penemuan fosil terbaru hingga April 2026. Konsensus ilmiah ini mempertegas fakta bahwa sebagian spesies dinosaurus berhasil bertahan hidup melalui proses evolusi menjadi unggas.
Paleontolog Steve Brusatte menjelaskan dalam karyanya yang dilansir dari Detik iNET bahwa burung berasal dari theropoda, yaitu kelompok pemakan daging yang mencakup Tyrannosaurus rex. Bukti fisik utama yang memperkuat teori ini adalah ditemukannya sisa-sisa bulu pada fosil dinosaurus di berbagai belahan dunia.
Revolusi pemikiran dalam dunia paleontologi ini dipicu oleh penemuan fosil Sinosauropteryx di China pada tahun 1996 oleh Phil Currie. Fosil dinosaurus kecil tersebut memiliki struktur bulu halus yang bercabang, serupa dengan karakteristik bulu pada burung modern saat ini.
Selain Sinosauropteryx, penemuan spesies Microraptor di wilayah Liaoning memberikan gambaran jelas mengenai tahap awal kemampuan terbang. Spesies ini memiliki bulu pada bagian tangan dan kaki yang menyerupai empat buah sayap untuk menunjang pergerakannya.
"Burung adalah satu-satunya dinosaurus yang selamat dari kepunahan massal," ujar Steve Brusatte, Paleontolog, dalam laporannya. Ia menekankan bahwa adaptasi ukuran tubuh yang mengecil serta metabolisme yang efisien menjadi kunci kelangsungan hidup mereka.
Bukti pendukung lainnya ditemukan melalui analisis mikroskopis terhadap melanosom yang menentukan pigmen warna pada bulu purba tersebut. Jejak protein yang ditemukan pada fosil memastikan bahwa struktur tersebut merupakan bulu asli dan bukan hasil pelapukan batuan alami.
Evolusi ini menunjukkan bahwa hewan seperti elang, ayam, hingga merpati membawa warisan genetik yang sama dengan nenek moyang prasejarah mereka. Keberadaan burung di lingkungan sekitar manusia saat ini secara ilmiah dianggap sebagai perwujudan dinosaurus modern yang masih bertahan dari peristiwa kepunahan 66 juta tahun lalu.