Igor Tudor, pelatih Tottenham Hotspur, menyatakan bahwa kekalahan dalam derbi melawan Arsenal menunjukkan "level" timnya. Menurutnya, Arsenal adalah tim terbaik dunia saat ini.
Arsenal berhasil mengamankan poin penuh saat bertandang ke markas Tottenham Hotspur pada pekan ke-28 Liga Inggris 2025/2026, Minggu (22/02/2026) waktu setempat. Dalam laga tersebut, The Gunners menang telak 1-4.
Tudor tak menyembunyikan kekecewaannya usai kekalahan tersebut. Alih-alih mencari pembenaran, ia justru memuji Arsenal sebagai tim terbaik dan mengakui laga itu menjadi cermin bagi Spurs.
Dalam pertandingan itu, Arsenal mendominasi dengan dua gol dari Eberechi Eze dan dua lainnya dari Viktor Gyökeres. Tottenham sempat membalas lewat Randal Kolo Muani di babak pertama, memberi harapan sesaat bagi tuan rumah.
Hasil ini terasa pahit bagi Tudor, yang baru melakoni laga pertamanya sebagai pelatih Spurs menggantikan Thomas Frank. Ia menilai kekalahan ini bukan hanya soal taktik, tetapi perbedaan kualitas yang signifikan.
"Arsenal sekarang mungkin adalah tim terbaik di dunia pada saat ini," kata Tudor.
Menurutnya, mentalitas saja tidak cukup untuk mengubah keadaan dalam waktu singkat. "Jika hari ini kami berpikir ini adalah derby dan kami bisa memberi sesuatu yang lebih, lebih mentalitas dan lebih motivasi, kenyataannya ada hal-hal yang tidak bisa Anda ubah hanya dalam tiga atau empat sesi latihan. Itu tidak mungkin.""
Tudor mengakui bahwa menghadapi Arsenal di laga perdana bukanlah skenario ideal. "Jadi ini bukan tim yang sempurna untuk dihadapi di pertandingan pertama, tetapi kami membutuhkan sesuatu yang baik dan hari ini menunjukkan kepada saya levelnya," lanjutnya.
Menurutnya, perbedaan kualitas antara kedua tim terlalu besar. "Ada jarak besar antara kedua tim, terlalu banyak Arsenal untuk kami. Tapi, bagus untuk memahami di mana posisi kami sekarang, pertandingan ini menunjukkan kenyataan," aku pelatih asal Krosia itu.
Tudor melihat kekalahan ini sebagai titik awal evaluasi untuk mengubah kebiasaan dan pola pikir tim. Dengan 11 laga liga tersisa untuk menghindari degradasi, ia menyadari tantangan berat menanti. Spurs belum meraih kemenangan liga sepanjang 2026, dan kepercayaan diri pemain menurun.
"Tanpa bola, kurangnya kepercayaan diri sangat terlihat," ujarnya. "Saya sangat sedih, marah, saya merasakan semuanya, tetapi penting untuk memahami apa tujuan kami dan menjadi serius," ucapnya.
Ia menambahkan, solusi pertama adalah introspeksi. "Obatnya adalah becermin, tetapi saya melihat kemauan dan hasrat mereka. Jadi, saya tidak marah karena mereka tidak mau melakukan, melainkan karena mereka belum mampu melakukannya saat ini," jelas pelatih berusia 47 tahun itu.
Tottenham sempat mengira menyamakan skor menjadi 2-2 ketika Kolo Muani kembali mencetak gol, tetapi dianulir karena dianggap melakukan dorongan terhadap bek Arsenal, Gabriel. Tudor memilih tidak mempermasalahkan keputusan wasit. "Menyentuh pemain di kotak penalti, itu selalu soal wasit," katanya. "Mereka membuat keputusan sesuai apa yang mereka lihat," katanya lagi.