Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga dengan cadangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp420 triliun pada Jumat (17/4/2026). Langkah ini diambil guna menghadapi ketidakpastian ekonomi global akibat konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Cadangan dana yang besar tersebut berfungsi sebagai bantalan fiskal agar Indonesia tidak perlu bergantung pada pinjaman luar negeri. Berdasarkan data yang dihimpun dari Detik Finance, pemerintah memilih untuk tidak menarik bantuan dana dari Dana Moneter Internasional (IMF) dalam situasi krisis ini.
"Tentu saja Indonesia tidak membutuhkan karena anggaran kita cukup baik dan kita masih punya bantalan yang cukup besar yaitu Rp420 triliun yang saya bilang sebelumnya," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Jumat (17/4/2026).
Keputusan tersebut didasari oleh ketiadaan otoritas IMF dalam menghentikan ketidakpastian ekonomi akibat perang. Purbaya menegaskan bahwa meskipun IMF menyediakan dana bantuan bagi negara yang membutuhkan, posisi fiskal Indonesia saat ini dinilai masih sangat memadai.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan beberapa negara tetangga yang mulai memberlakukan status siaga. Malaysia melalui Menteri Ekonomi Akmal Nasrullah Mohd Nasir sebelumnya menyatakan periode Juni hingga Juli 2026 akan menjadi fase krusial bagi ketahanan energi mereka akibat ancaman kelangkaan BBM.
Sementara itu, IMF telah memproyeksikan adanya koreksi pertumbuhan ekonomi global akibat lonjakan harga energi dan penurunan daya beli masyarakat. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebutkan terdapat 12 negara yang masuk dalam daftar penerima bantuan finansial saat ini.
"Gangguan akibat perang dapat memicu permintaan dukungan keuangan baru sebesar US$ 20 miliar hingga US$ 50 miliar yang dapat mencakup pinjaman baru maupun tambahan dari program yang sudah berjalan," ujar Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana IMF pada Jumat (17/4/2026).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menambahkan bahwa kinerja ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan global yang meningkat. Ketahanan ini menurutnya mampu memperkuat kepercayaan pelaku usaha internasional yang beroperasi di wilayah Asia Tenggara.
Indikator kekuatan ekonomi ini menjadi sorotan penting di saat harga komoditas energi dunia terus fluktuatif. Pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik guna memastikan stabilitas pasar domestik dan perlindungan daya beli masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam kebijakan fiskal 2026.