Casey Stoner menilai bahwa meraih gelar MotoGP bersama Ducati merupakan pencapaian terberat dalam kariernya. Pembalap asal Australia ini menjadi bagian dari kelompok elite yang berhasil menjuarai kelas 500cc/MotoGP dengan lebih dari satu pabrikan.
Pada musim 2007, Stoner secara mengejutkan tampil gemilang di musim debutnya bersama Ducati. Banyak pihak terkejut melihat Stoner mampu memaksimalkan potensi motor yang dikenal sulit dikendalikan tersebut.
Stoner berhasil mempersembahkan gelar MotoGP pertama dan satu-satunya bagi Ducati. Ia mencatatkan 10 kemenangan dan 14 podium dari 18 balapan. Performa Stoner jauh melampaui rekan setimnya.
Pembalap Ducati lainnya, termasuk Loris Capirossi, tidak mampu mendekati pencapaian Stoner. Keberhasilan Ducati saat itu nyaris sepenuhnya bergantung pada kehebatan Stoner di atas motor.
“Gelar mana yang paling sulit? Ducati, jelas,” tutur Stoner.
Menurut Stoner, Desmosedici pada masa itu sangat sulit dikendalikan. Setiap akhir pekan terasa seperti perjuangan untuk menemukan setelan yang tepat.
“Dengan Ducati, rasanya setiap akhir pekan adalah sebuah perjuangan. Sangat, sangat sulit untuk membuat motor bekerja di area yang tepat,” ujarnya.
Tekanan semakin meningkat karena masalah teknis kerap muncul. Stoner mengungkapkan bahwa timnya beberapa kali mengalami kegagalan mesin, meskipun tidak terjadi saat balapan.
“Itu jauh lebih membuat stres. Kami mengalami kerusakan mesin dan hal-hal lain. Untungnya tidak pernah terjadi di balapan. Tapi itu jelas yang paling sulit, bersama Ducati,” lanjut Stoner.
Tetap Dominan Walau Ducati Mulai Tertinggal
Ducati mulai kehilangan keunggulan saat memasuki era mesin 800cc. Pabrikan Jepang lain mulai mengejar, sehingga persaingan menjadi semakin ketat.
Pada musim 2008, Stoner masih mampu menjadi runner-up di bawah Valentino Rossi dengan enam kemenangan. Namun, jumlah kemenangannya terus menurun pada tahun 2009 dan 2010, ditambah dengan masalah kesehatan yang dialaminya.
Meskipun demikian, performa Stoner tetap jauh lebih baik dibandingkan pembalap Ducati lainnya. Selama empat musim bersama Ducati, Capirossi hanya mencatat satu kemenangan pada tahun 2007. Secara keseluruhan, Stoner meninggalkan Ducati dengan keunggulan 23 kemenangan berbanding satu atas rekan-rekannya.
Stoner kemudian memutuskan untuk pindah ke Honda pada akhir musim 2010, yang kemudian mengubah persepsi banyak pihak.
Honda Beri Pengakuan dan Gelar Lebih Bermakna
Bersama Honda pada musim 2011, Stoner kembali menunjukkan kemampuannya. Ia langsung mendominasi musim debut dengan 10 kemenangan dan merebut gelar MotoGP keduanya.
“Dengan Honda, semuanya seperti berjalan sesuai rencana pada musim itu,” kata Stoner.
Meskipun mengakui sempat melakukan kesalahan setelan dan mengalami masalah ban, Stoner menilai bahwa perjalanan menuju gelar bersama Honda berlangsung jauh lebih mulus.
“Pada saat yang sama, kejuaraan berjalan sangat lancar,” ucapnya.
Ketika ditanya gelar mana yang paling berarti, Stoner menjawab, “Mungkin yang bersama Honda.”
Menurut Stoner, keberhasilan di Honda menjadi momen pembuktian setelah dirinya dan tim Ducati menerima banyak kritik.
“Selama ini kami mendapat begitu banyak kritik. Orang-orang mungkin baru benar-benar memahami apa yang kami lakukan di Ducati setelah saya pindah ke Honda,” jelas Stoner.
Ia menambahkan bahwa pengakuan terhadap kerja kerasnya baru benar-benar datang setelah pindah pabrikan. “Kami, saya dan tim, tidak benar-benar mendapatkan pengakuan sampai saya pergi ke Honda. Dan setelah itu, jauh lebih mudah untuk kompetitif.”
Pensiun Dini, Warisan Abadi
Stoner menambah lima kemenangan lagi bersama Honda pada musim 2012 yang terganggu cedera, sebelum memutuskan untuk pensiun di usia yang sangat muda, yaitu 27 tahun.
Meskipun kariernya relatif singkat, warisan Casey Stoner di MotoGP tak tergantikan. Dua gelar dunia bersama dua pabrikan berbeda, serta keberaniannya menaklukkan motor yang dianggap mustahil, menjadikannya salah satu pembalap paling jujur, berbakat, dan ikonik dalam sejarah balap motor dunia.
Sumber: Crash.net