Pemerintah menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat kenaikan harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak dunia ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah, melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menyampaikan bahwa target defisit APBN sulit dipertahankan di bawah 3%. Skenario defisit di atas 3% pun disiapkan.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan berpendapat bahwa skenario tersebut belum diperlukan. Ia menilai kondisi fiskal Indonesia masih terjaga.
"Saran rekomendasi kami, terkondisi semua, tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Kita tetap waspada, kita memantau terus perkembangan di luar. Tapi tadi juga mengenai APBN juga saya pikir kami koordinasi dengan Menteri Keuangan, saya kira fiskal juga masih sangat prudent," ujar Luhut.
Luhut menambahkan perlunya pertimbangan yang matang sebelum menaikkan budget defisit. Pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan dan akan melihat perkembangan situasi.
Airlangga Hartarto menjelaskan beberapa simulasi yang disusun berdasarkan potensi kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP), pergerakan nilai tukar rupiah, dan imbal hasil surat utang negara.
Skenario pertama, dengan harga ICP di US$ 86 per barel dan nilai tukar rupiah Rp 17.000 per dolar AS, defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18% terhadap PDB. Asumsi dalam skenario ini adalah pertumbuhan ekonomi di level 5,3% dan imbal hasil surat berharga negara sekitar 6,8%.
"Ini skenario pertama ICP-nya di US$ 86, kursnya di Rp 17 ribu, Pak. APBN kita kursnya Rp 16.500. Kemudian dengan growth kita pertahankan. Jadi ini yang kita pertahankan, growth di 5,3%. Surat berharga negaranya, angkanya lebih tinggi, Pak, 6,8%. Maka defisitnya adalah 3,18%," jelas Airlangga dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Skenario moderat kedua, harga minyak diperkirakan naik menjadi US$ 97 per barel dan nilai tukar rupiah Rp 17.300 per dolar AS. Jika pertumbuhan ekonomi sedikit menurun menjadi 5,2% dan imbal hasil surat utang naik menjadi 7,2%, defisit APBN diperkirakan melebar hingga 3,53% terhadap PDB.
"Kemudian kalau skenario moderat kedua dengan harga minyaknya US$ 97, kursnya Rp 17.300. Growth-nya di 5,2%. Surat berharga negaranya lebih tinggi lagi di 7,2%. Nah defisitnya itu mencapai 3,53%," tambah Airlangga.
Skenario terburuk memperkirakan harga minyak melonjak hingga US$ 115 per barel dan nilai tukar rupiah melemah ke Rp 17.500 per dolar AS. Dalam kondisi ini, dengan pertumbuhan ekonomi tetap di kisaran 5,2% dan yield surat utang 7,2%, defisit APBN berpotensi meningkat hingga 4,06% terhadap PDB.
"Kemudian kalau skenario terburuk yang pesimis, itu dengan harga US$ 115, kurs rupiah kita Rp 17.500. Growth-nya 5.2%, surat per harganya 7,2%, defisitnya 4,06%," sebutnya.
Airlangga Hartarto menyatakan bahwa target defisit di bawah 3% akan sulit dipertahankan berdasarkan simulasi tersebut. Salah satu cara untuk mempertahankan target tersebut adalah dengan memangkas belanja negara atau menurunkan target pertumbuhan ekonomi.
"Jadi artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3% itu sulit kita pertahankan. Kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan, Pak Presiden. Nah ini beberapa skenario yang mungkin perlu kita rapatkan secara terbatas," tutupnya.