Digitalisasi Pendidikan Dongkrak Minat dan Hasil Belajar di NTT

Pemanfaatan teknologi pembelajaran berdampak positif di sekolah wilayah 3T NTT. Minat belajar meningkat, hasil evaluasi siswa pun naik.

Digitalisasi pendidikan mulai menunjukkan hasil positif di sekolah-sekolah wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran terbukti mampu meningkatkan minat belajar siswa sekaligus mendorong peningkatan hasil evaluasi.

Theobaldus Banafanu, guru IPS di SMPN Wederok, Kabupaten Malaka, menyampaikan bahwa kehadiran fasilitas digital seperti aplikasi Rumah Pendidikan, Papan Interaktif Digital (PID), serta akses internet Starlink sejak awal 2026 membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menarik.

Aplikasi Rumah Pendidikan disediakan oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sementara PID dan akses internet disediakan oleh Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.

Theobaldus menjelaskan, sebelumnya buku ajar yang tersedia terbatas. Namun, dengan adanya PID sejak Januari 2026, guru dapat dengan mudah mencari dan menampilkan visualisasi materi pelajaran. "Intinya, kami, guru dan murid dimudahkan segalanya saat di kelas," kata Theobaldus saat diwawancarai, Rabu (18/3/2026).

Dampak digitalisasi, lanjutnya, terlihat dari peningkatan hasil belajar siswa. Rata-rata nilai kelas yang sebelumnya berada di kisaran 60, kini meningkat menjadi sekitar 75 hingga 80.

Menurutnya, peningkatan ini terjadi karena siswa lebih mudah memahami materi pelajaran melalui visual dan konten digital yang lebih menarik.

Theobaldus, yang telah mengajar sejak 2019, menilai bahwa kondisi ini sesuai dengan karakter siswa yang merupakan generasi digital native. Meskipun berasal dari wilayah 3T dengan mayoritas orang tua bekerja sebagai petani, sebagian besar siswa sudah familiar dengan penggunaan ponsel pintar.

Fasilitas digital juga membuat suasana kelas lebih aktif dan tidak membosankan. Guru dapat dengan mudah memanfaatkan video atau konten digital sebagai selingan pembelajaran.

"Kami sangat bangga dengan apa yang diberikan pemerintah ke sekolah di wilayah 3T seperti kami. Murid tidak ngantuk lagi di kelas, kami guru pun lebih antusias karena tak hanya ajarkan teori di atas kertas tapi juga mudah memperlihatkannya di papan digital," ujarnya.

Theobaldus juga menceritakan pengalamannya mengikuti kegiatan Pendampingan Pemanfaatan PID yang diselenggarakan Direktorat SMP bersama Pusdatin bagi sekolah afirmasi atau wilayah 3T. Dalam kegiatan tersebut, ia mendapatkan pelatihan penggunaan berbagai perangkat pembelajaran digital, termasuk presentasi menggunakan Canva.

Menurutnya, pelatihan tersebut menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran dapat dihadirkan setara di berbagai daerah di Indonesia, termasuk wilayah terpencil.

Saat ini, pemanfaatan fasilitas digital di SMPN Wederok masih terbatas karena hanya tersedia satu unit PID. Dengan dukungan super aplikasi Rumah Pendidikan dan internet Starlink, setiap kelas rata-rata baru dapat menggunakan perangkat tersebut sekitar satu kali dalam seminggu.

Pihak sekolah berharap pemerintah dapat terus menambah sarana dan prasarana digital di wilayah 3T agar pemanfaatannya semakin optimal.

Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikdasmen Yudhistira Nugraha menyampaikan bahwa pengalaman sekolah di NTT menjadi contoh perubahan paradigma pendidikan yang sedang didorong pemerintah.

"Perubahan mindset ini membuat pembelajaran tidak lagi terbatas ruang kelas, tetapi dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja. Dengan pendekatan _learning_, proses belajar bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun," ujarnya.

Yudhistira menambahkan, transformasi digital pendidikan juga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Saat ini, terdapat hampir 3.000 pengembang teknologi pembelajaran di Indonesia yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga.

Dengan kolaborasi tersebut, ekosistem teknologi pendidikan diharapkan dapat semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi proses belajar di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah 3T.

Recommended