Dugaan tindakan kekerasan seksual dan fisik yang menimpa delapan atlet panjat tebing kini menjadi sorotan serius di kalangan DPR RI. Kasus ini telah dilaporkan kepada Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, dan memicu keprihatinan luas, seperti dilansir dari Bola. Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir, juga menyampaikan keprihatinan mendalam dan mengecam keras kejadian tersebut setelah jumlah korban di lingkungan pelatnas bertambah.
Verrell Bramasta, Anggota Komisi X DPR RI, menyatakan penyesalannya atas insiden yang terjadi. Menurutnya, dunia olahraga seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi atlet untuk mengembangkan kemampuan serta meraih prestasi, bukan sebaliknya menghadapi tindak kekerasan.
“Saya sangat menyesalkan kejadian ini dan mengecam segala bentuk kekerasan. Olahraga seharusnya menjadi ruang aman untuk membangun karakter dan meraih prestasi, bukan tempat yang mencederai martabat atlet," tegas Verrel Bramasta.
Verrell menekankan pentingnya menjaga keamanan dan martabat para atlet. Para atlet adalah individu yang berlatih keras demi memberikan yang terbaik bagi bangsa, sehingga tidak boleh ada tindakan yang melukai keselamatan dan harga diri mereka. Dukungan penuh juga disampaikan kepada para korban dan keluarga yang terdampak.
“Saya berada di sisi korban dan mendoakan mereka serta keluarga yang terdampak. Kita kawal kasus ini, dan jika terbukti bersalah, pelaku harus mendapat sanksi tegas agar tidak ada lagi korban berikutnya,” lanjut Verrell.
Menurut keterangan FPTI, jumlah atlet yang melapor telah bertambah dari delapan menjadi sepuluh, terdiri dari lima atlet putra dan tiga atlet putri. Erick Thohir menyampaikan, “Keselamatan, martabat, dan masa depan atlet adalah prioritas utama. Tidak ada tempat bagi kekerasan seksual dalam dunia olahraga Indonesia termasuk pelatnas yang seharusnya menjadi tempat tumbuh kembang dan berkembangnya para atlet terbaik tanah air. Kami menerapkan prinsip zero tolerance terhadap segala bentuk pelecehan dan kekerasan.”
Sebagai mitra Kemenpora di Komisi X DPR RI, Verrell Bramasta mengapresiasi dukungan dari Kemenpora dalam proses investigasi yang sedang berjalan di FPTI. Hal ini menunjukkan sinergi antara lembaga legislatif dan eksekutif dalam upaya penyelesaian kasus ini. Verrell juga memuji langkah Kemenpora untuk membuka jalur pengaduan bagi korban kekerasan seksual dan fisik, yang dianggap krusial agar para korban memiliki wadah untuk melaporkan pengalaman mereka tanpa rasa takut.
Menpora Erick Thohir memastikan bahwa para atlet yang melapor akan mendapatkan perlindungan penuh dari segala bentuk intimidasi maupun tekanan. Selain itu, hak dan kelangsungan karier mereka juga dijamin tidak akan dirugikan.
“Negara berpihak kepada atlet, melindungi kerahasiaan identitas pelapor, dan memberikan perlindungan penuh bagi mereka dari segala bentuk tekanan, intimidasi termasuk juga perlindungan untuk kelangsungan karier mereka," ujar Erick Thohir. Ia juga mendorong agar pendampingan hukum dan psikologis jangka panjang dapat diberikan untuk menjaga masa depan para korban.
“Korban harus mendapatkan pendampingan maksimal, termasuk akses pemulihan psikologis yang memadai. Identitasnya harus dijaga dan dilindungi, agar tidak menghadapi tekanan sosial karena keberanian mereka untuk bersuara," kata Verrell.
Menurutnya, perlindungan identitas korban sangat penting untuk mencegah tekanan sosial dan memastikan mereka merasa aman dalam menyampaikan kebenaran. Verrell berharap upaya ini dapat memberikan keadilan bagi seluruh pihak yang terdampak.
Erick Thohir berharap kasus ini dapat menjadi momentum untuk evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan di pelatnas. Hal ini termasuk memperkuat mekanisme pengawasan, sistem pelaporan yang aman dan rahasia, serta penerapan kebijakan perlindungan atlet di seluruh cabang olahraga.
“Kasus ini menjadi pelajaran kita bersama, dan penyelesaian kasus bukanlah titik akhir karena kita harus memperbaiki sistem agar kejadian serupa tidak pernah terulang. Ini momentum untuk melakukan reformasi menyeluruh dalam tata kelola perlindungan atlet. Kita harus memastikan olahraga Indonesia bersih, aman, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Saya mengajak semua pihak untuk bersama mengawal kasus ini hingga tuntas,” pungkas Menpora.
Kasus ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh federasi olahraga di Indonesia untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Verrell Bramasta menyerukan penguatan sistem pengawasan dan perlindungan di seluruh federasi olahraga serta pemusatan latihan nasional (pelatnas) agar insiden serupa tidak terulang kembali, mengingat peristiwa semacam ini tidak hanya menyakitkan bagi korban, tetapi juga merusak citra olahraga Indonesia di mata publik.