Dampak dari situasi geopolitik yang memanas kembali dirasakan dalam dunia balap Formula 1. Federasi Otomotif Internasional (FIA) dan Formula 1 resmi membatalkan dua balapan penting akibat meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Grand Prix Bahrain dan Grand Prix Arab Saudi menjadi dua balapan yang dibatalkan. Keputusan ini menyebabkan jeda yang tidak direncanakan selama lima minggu antara Grand Prix Jepang dan Grand Prix Miami.
Dengan adanya pembatalan ini, musim balap tahun ini berkurang dari 24 menjadi 22 seri. Pembatalan ini berdampak besar secara ekonomi dan logistik, selain di lintasan balap.
Pembatalan Grand Prix Bahrain dan Arab Saudi didasari oleh dua alasan utama, yaitu risiko keamanan yang tinggi dalam pengiriman peralatan Formula 1 serta pembatasan dan penutupan ruang udara di kawasan Timur Tengah dan Teluk.
Setiap tim memindahkan ratusan ton kargo dari satu sirkuit ke sirkuit lainnya sebelum balapan dimulai. Kargo tersebut terdiri dari mobil balap, suku cadang, peralatan pit lane, dan infrastruktur siaran langsung. Koordinasi ketat pesawat kargo sangat penting dalam proses ini.
Namun, jalur penerbangan dinilai terlalu berbahaya untuk operasi logistik global Formula 1 karena serangan rudal dan drone yang terus terjadi di kawasan tersebut.
Faktor utama lainnya adalah tanggung jawab hukum terhadap keselamatan. FIA memiliki aturan tata kelola yang mewajibkan Formula 1 untuk menjamin keselamatan pembalap, staf, dan penonton sebelum menyelenggarakan sebuah event.
Penyelenggaraan balapan di kawasan tersebut, dengan adanya konflik militer dan ketidakstabilan keamanan, akan melanggar prinsip dasar FIA.
Kerugian Finansial Akibat Pembatalan
Pembatalan dua balapan ini membawa konsekuensi finansial yang sangat besar, meskipun keselamatan menjadi prioritas utama. Formula 1 diperkirakan akan kehilangan sekitar USD100 juta akibat pembatalan GP Bahrain dan Arab Saudi.
Biaya penyelenggaraan balapan Arab Saudi diketahui sekitar USD60 juta per tahun, sedangkan GP Bahrain bernilai sekitar USD55 juta. Biaya ini termasuk pembayaran dari tuan rumah atau hosting fees, sponsor, dan pendapatan tiket.
Pendapatan dari aktivasi sponsor di sekitar lintasan, paket hospitality eksklusif, dan penjualan tiket selama akhir pekan balapan juga hilang bagi F1.
Kedua sirkuit ini menarik banyak penonton, baik dari dalam maupun luar negeri, yang secara tidak langsung mendukung ekosistem komersial olahraga balap mobil paling elit ini.
Sejarah Gangguan Geopolitik di Formula 1
Formula 1 telah beberapa kali menghadapi gangguan serius dalam sejarahnya, sehingga harus menyesuaikan kalender balapannya akibat krisis global.
GP Bahrain dibatalkan pada tahun 2011 akibat kerusuhan sosial dan ketegangan politik di dalam negeri. Selama pandemi COVID-19, kalender balapan 2020 harus direncanakan ulang secara total, dengan banyak balapan yang dibatalkan atau dipindahkan ke sirkuit netral.
Menyusul invasi Rusia ke Ukraina, GP Rusia dibatalkan pada tahun 2022. FIA mencabut pengakuan acara itu sebagai bentuk protes terhadap konflik bersenjata.
Formula 1 memiliki struktur keuangan yang kuat dan telah menghasilkan keuntungan besar dalam beberapa tahun terakhir, sehingga olahraga ini memiliki ruang gerak untuk tetap stabil meski menghadapi gangguan tak terduga.
F1 tetap bisa bertahan tanpa krisis serius meski merugi hingga ratusan juta dolar, berkat struktur keuangan yang kuat.