Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I-2026

Produk Domestik Bruto Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026 didorong belanja pemerintah dan konsumsi Ramadan, melampaui ekspektasi pasar.

Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,61 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal I-2026 yang didorong oleh lonjakan belanja pemerintah serta konsumsi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri. Capaian pada awal tahun ini dinilai melampaui ekspektasi para pelaku pasar.

Dilansir dari Medcom, kenaikan signifikan pada belanja pemerintah menjadi mesin utama penggerak ekonomi. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, mencatat belanja fiskal tersebut mengalami akselerasi hingga mencapai angka 21,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sektor akomodasi serta jasa makanan dan minuman membukukan pertumbuhan tertinggi mencapai 13,1 persen secara tahunan akibat tingginya mobilitas warga saat libur panjang. Sementara itu, sektor industri manufaktur tetap menjadi kontributor terbesar nasional dengan angka pertumbuhan sekitar 5 persen YoY.

"Pertumbuhan kuartal pertama relatif kuat, terutama ditopang oleh akselerasi belanja fiskal dan konsumsi musiman. Namun secara kumulatif PDB masih mengalami kontraksi sekitar 0,8%, yang menunjukkan adanya efek musiman dan front-loading anggaran," ujar Analis Mirae Novani Karina Saputri dalam risetnya.

Kondisi berbeda terjadi pada sektor pertambangan yang justru mengalami kontraksi. Penurunan ini dipicu oleh lemahnya permintaan dari pasar eksternal serta tekanan harga komoditas global yang sedang bergejolak sepanjang awal tahun 2026.

Investasi atau pembentukan modal tetap bruto (GFCF) terpantau masih tumbuh pada angka 6 persen secara tahunan. Meski demikian, pertumbuhan ini mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi akibat pengaruh suku bunga global yang tetap tinggi serta kondisi keuangan internasional yang masih ketat.

Sektor eksternal mulai menunjukkan pelemahan dengan pertumbuhan ekspor yang terbatas. Hal ini diperburuk dengan kinerja impor yang lebih kuat, sehingga memberikan tekanan negatif terhadap neraca ekspor bersih Indonesia pada periode laporan kuartalan tersebut.

Nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hingga menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS di tengah risiko geopolitik global. Meskipun ada tekanan mata uang, Mirae Asset Sekuritas memprediksi Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen sepanjang tahun ini.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan kembali ke level normal pada kuartal berikutnya seiring berakhirnya dampak musiman hari raya. Ketahanan konsumsi domestik dan pengelolaan ruang fiskal oleh pemerintah menjadi faktor kunci keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di tengah risiko perlambatan mitra dagang utama.

Recommended