Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada triwulan I-2026 di tengah dinamika global yang fluktuatif. Capaian ini disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat (Rakorbangpus) RKP Tahun 2027 di Jakarta Pusat pada Kamis (7/5/2026).
Angka pertumbuhan tersebut menempatkan performa ekonomi nasional berada di atas rata-rata negara tetangga dan beberapa negara maju lainnya. Berdasarkan data yang dihimpun, posisi Indonesia melampaui capaian ekonomi Malaysia dan Singapura untuk periode yang sama.
Dilansir dari Detik Finance, ekonomi Malaysia tercatat tumbuh sebesar 5,3 persen, sementara Singapura berada di angka 4,6 persen. Selain di kawasan regional, pertumbuhan Indonesia juga lebih tinggi dibandingkan China yang tumbuh 5 persen, Korea Selatan 3,6 persen, dan Amerika Serikat 2,7 persen.
Meskipun unggul dari banyak negara mitra, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat masih berada di bawah Vietnam yang sukses tumbuh hingga 7,8 persen. Juda Agung menjelaskan bahwa tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh maraknya relokasi pabrik dari China ke wilayah Vietnam dalam beberapa waktu terakhir.
Walaupun kalah secara angka pertumbuhan dari Vietnam, pemerintah menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap lebih kokoh. Perbedaan ketahanan ini dapat dilihat secara jelas melalui indikator cadangan devisa yang dimiliki masing-masing negara saat ini.
"Ambil salah satu indikator saja, cadangan devisa Vietnam itu di bawah 3 bulan impor. Sementara kita masih sekitar 6 bulan impor, mendekati sekian 6 bulan impor," kata Juda Agung, Wakil Menteri Keuangan.
Juda menambahkan bahwa perbandingan dengan negara lain menunjukkan Indonesia mampu menjaga pertumbuhan yang relatif tinggi tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah optimis ketahanan cadangan devisa yang kuat menjadi pembeda utama dalam menghadapi ketidakpastian pasar global kedepannya.