Kondisi ekonomi Iran dilaporkan berada di ambang kehancuran menyusul konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memicu lonjakan inflasi hingga di atas 50 persen pada Sabtu, 25 April 2026. Tekanan berat ini diperparah oleh blokade jalur perdagangan strategis yang melumpuhkan pendapatan negara.
Dilansir dari Detik Finance, International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan ekonomi Iran akan menyusut sebesar 6,1 persen pada tahun 2026. Selain penyusutan PDB, inflasi diperkirakan mencapai 68,9 persen dengan nilai tukar mata uang yang merosot hingga 1,32 juta rial per dolar AS.
Data dari CNBC menunjukkan bahwa nilai mata uang rial telah kehilangan 60 persen nilainya hanya dalam beberapa bulan setelah perang singkat selama 12 hari pada Juli tahun lalu. Inflasi sektor pangan bahkan mencatat kenaikan drastis, di mana harga minyak dan lemak melonjak hingga 219 persen sejak awal tahun hingga Maret 2026.
Blokade yang dilakukan AS di Selat Hormuz menjadi faktor utama lumpuhnya perdagangan internasional Teheran karena lebih dari 90 persen ekspor minyak Iran bergantung pada jalur tersebut. Penutupan efektif selat ini berpotensi memangkas pendapatan minyak negara tersebut hingga 70 persen.
"Hal ini menutup salah satu jalur kehidupan utama Teheran, dan mempercepat titik di mana neraca pembayaran Iran akan menemui jalan buntu," kata Robin Brooks, Peneliti Senior Brookings Institution. Ia menambahkan bahwa efektivitas blokade ini kemungkinan besar akan memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.
Selain kerugian operasional, kerusakan infrastruktur energi akibat serangan fisik diperkirakan menelan biaya antara US$ 200 miliar hingga US$ 270 miliar. Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, dilaporkan telah meminta Presiden Masoud Pezeshkian untuk segera mengambil langkah stabilisasi darurat guna mencegah bencana kemanusiaan lebih lanjut.
Para pejabat senior di Teheran memperingatkan bahwa proses pemulihan ekonomi pascaperang setidaknya membutuhkan waktu lebih dari satu dekade. Saat ini, mitra dagang utama seperti Rusia dan China menunjukkan kecenderungan untuk mulai mencari rute perdagangan alternatif guna menghindari ketidakpastian di Selat Hormuz.